Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan

Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan

Yayasan BKSP Bakti Mulya 400 menggelar Halal Bihalal keluarga besar sekolah pada Senin pagi, 30 Maret 2026, di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP Bakti Mulya 400 Jakarta. Mengusung tema “Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan”, acara ini menjadi lebih dari sekadar tradisi saling memaafkan. Ia menjelma sebagai ruang refleksi kolektif tentang arah pendidikan, kualitas manusia, dan tanggung jawab kebangsaan yang dipikul lembaga pendidikan.

Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran pengurus yayasan, pimpinan sekolah, guru, karyawan, serta menghadirkan penceramah utama Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Ketua Umum MUI DKI Jakarta periode 2023–2028 sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman.

Pendidikan yang Baik Lahir dari Proses yang Dikelola Guru Berkualitas

Dalam sambutannya, CEO Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, menegaskan satu hal mendasar: capaian pendidikan yang baik tidak ditentukan oleh kualitas input siswa semata, melainkan oleh kualitas proses pendidikan yang dikelola para guru.

“Sekolah yang hebat bukan sekolah yang hanya menerima siswa-siswa terpilih. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu mengelola proses pendidikan secara unggul melalui guru-guru yang kompeten dan saleh,” ujarnya.

Kesalehan itu, menurutnya, bukan konsep abstrak. Ramadan menjadi tolok ukur yang konkret. Ia menyebut, tahun ini terdapat delapan guru Bakti Mulya 400 yang berhasil menghatamkan Al-Qur’an hingga sepuluh kali selama Ramadan—sebuah indikator disiplin ruhani yang diyakini berbanding lurus dengan kualitas kepribadian pendidik di ruang kelas.

Ia juga menekankan bahwa Bakti Mulya 400 dikelola dengan standar korporasi. Profesionalisme tata kelola, ketertiban sistem, dan kemampuan membaca dinamika zaman menjadi fondasi sekolah dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berubah.

Namun di atas itu semua, kata Sutrisno, Bakti Mulya 400 menanamkan nilai kebangsaan. “Kami ingin melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga mencintai tanah air Indonesia.”

Momentum Menguatkan Niat dan Komitmen

Ketua Dewan Pengurus Yayasan, Ir. Hj. Anna Rosita Subagdja, melihat halal bihalal sebagai momentum strategis untuk menguatkan niat dan kebersamaan dalam mengemban amanah pendidikan.

“Ini bukan sekadar saling memaafkan. Ini tentang saling menguatkan—menguatkan niat, kebersamaan, dan komitmen,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa kemajuan Bakti Mulya 400 bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari kerja panjang, kerja hati, dan kerja bersama. Justru karena kemajuan itu, tanggung jawab yang diemban kini semakin besar.

Menurut Anna, Bakti Mulya 400 tidak lagi cukup hanya menjadi sekolah yang baik. Sekolah ini dituntut memberi dampak yang lebih luas. Yayasan, katanya, tengah bersiap melakukan ekspansi nilai—menghadirkan pendidikan khas Bakti Mulya 400 ke wilayah lain, menjangkau lebih banyak anak bangsa, dan menebarkan manfaat yang lebih luas.

Halal Bihalal: Kearifan Islam Indonesia yang Menenteramkan

Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Muhammad Faiz mengajak hadirin melihat halal bihalal dari sudut pandang yang lebih dalam. Tradisi ini, katanya, bukan berasal dari budaya Arab, melainkan kearifan khas Indonesia yang justru menunjukkan wajah Islam yang menenteramkan.

“Silaturahmi dan saling memaafkan adalah ajaran agama. Halal bihalal adalah instrumen budaya yang memfasilitasi ajaran itu,” jelasnya.

Ia mengingatkan pentingnya membedakan antara agama dan instrumen keagamaan. Ta’jil adalah ajaran agama, tetapi apakah berbuka dengan kurma atau kolak adalah instrumen yang bisa menyesuaikan budaya setempat. Demikian pula dengan pakaian dan ekspresi lahiriah keberagamaan.

“Kesalehan tidak diukur dari tampilan luar, tetapi dari upaya sungguh-sungguh membangun hubungan kemanusiaan,” ujarnya.

Baca juga : Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya

Ia menutup dengan pesan kuat: ibadah personal seperti salat, puasa, dan haji tidak cukup mengantarkan manusia menuju kebaikan bila hubungan antarmanusia tidak dibangun dengan saling memaafkan, saling menghormati, dan menjaga keseimbangan alam semesta.

Idul Fitri sebagai Awal Perubahan

Halal bihalal di Bakti Mulya 400 tahun ini menegaskan satu pesan utama: Idul Fitri bukan garis akhir Ramadan, melainkan garis awal perubahan. Perubahan kualitas diri, perubahan cara mengelola pendidikan, dan perubahan tanggung jawab sosial untuk bangsa.

Di tangan guru yang kompeten dan saleh, tata kelola yang profesional, serta nilai kebangsaan yang kokoh, Bakti Mulya 400 meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai ladang pembentuk peradaban.

Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya-1

Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya

Menjelang Maghrib pada Jumat, 13 Maret 2026, suasana di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP Bakti Mulya 400 perlahan dipenuhi para pimpinan sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta, Cibubur dan Depok dan tamu-tamu kehormatan. Di luar, matahari perlahan turun menuju ufuk barat. Itulah suasana Iftar Gathering Bakti Mulya 400 bertema “Fasting and Mental Wellbeing.”

Acara yang berlangsung pukul 16.00 hingga 18.30 WIB itu menghadirkan dua pembicara: Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si., CEO Bakti Mulya 400, dan Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, M.A., Guru Besar Antropologi Medis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya berbicara dari dua sudut pandang unik—kepemimpinan pendidikan dan kesehatan manusia—sekaligus mempertemukan satu makna: puasa adalah jalan pembentukan manusia yang utuh.

Sekolah yang Bertumbuh dari Semangat

Dalam sambutannya, Sutrisno Muslimin membuka pertemuan itu dengan kabar menggembirakan. Di tengah dinamika dunia pendidikan yang semakin kompetitif, Sekolah Bakti Mulya 400 justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Penerimaan siswa baru untuk tahun pelajaran 2026/2027 di seluruh unit—Jakarta, Cibubur, dan Depok—nampak akan terpenuhi dengan cepat. Jika tren ini terus berlanjut, jumlah siswa pada tahun ajaran mendatang diperkirakan akan mencapai sekitar 2000 siswa.

“Ini bukan sekadar angka,” kata Sutrisno. “Ini adalah hasil dari kerja kolektif seluruh guru yang bekerja dengan semangat, berpikir positif, dan memberikan kontribusi terbaik bagi sekolah.”

Namun bagi Sutrisno, pertumbuhan lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah siswa. Lebih penting adalah kualitas manusia yang membangunnya. Karena itu ia mengingatkan para pimpinan guru tentang tiga hal penting yang harus terus dijaga.

Pertama, membangun komunitas yang semakin dekat kepada Tuhan. Ramadan, menurutnya, adalah momentum untuk memperkuat spiritualitas. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter.

“Guru yang saleh akan membawa dampak pada kualitas kerjanya,” ujarnya.

Kedua, kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Dunia pendidikan hari ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi dan arus informasi global telah mengubah cara manusia belajar, berpikir, dan bekerja. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi cukup hanya mengandalkan metode lama atau pengetahuan yang diperoleh bertahun-tahun silam. Kemampuan beradaptasi bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi juga kemampuan membuka diri terhadap cara berpikir baru, metode pembelajaran baru, serta tantangan baru. Guru yang mampu beradaptasi akan tetap relevan di tengah perubahan, sementara guru yang berhenti belajar akan tertinggal oleh perkembangan zaman.

Ketiga, belajar tanpa henti. Pengetahuan, kata Sutrisno, memiliki masa kedaluwarsa. Apa yang dipelajari kemarin bisa jadi sudah tidak relevan hari ini.

“Apa yang kita pelajari di bangku kuliah dulu, hampir pasti membutuhkan pembaruan sekarang,” katanya.

Pesan itu sederhana, tetapi mendalam: guru yang terus belajar adalah fondasi bagi sekolah yang terus berkembang.

Ketika Lapar Menjadi Jalan Sehat

Pada sesi selanjutnya, Prof. Rusmin Tumanggor mulai menyampaikan tausiyahnya. Ia membuka ceramah dengan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang singkat namun penuh makna:

“Shūmū taṣiḥḥū.”
Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.

Hadis ini, menurut Rusmin, sering dikutip tetapi jarang direnungkan secara mendalam. Padahal kalimat sederhana itu membuka pemahaman luas tentang puasa sebagai sistem kesehatan manusia yang menyeluruh.

Puasa, katanya, bukan hanya ibadah ritual. Ia adalah latihan besar bagi manusia untuk menata tubuh, jiwa, masyarakat, dan spiritualitasnya.

Dari situlah muncul gagasan tentang empat jalan kesehatan dalam puasa: kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Tubuh yang Belajar Beristirahat

Dalam kehidupan modern, tubuh manusia jarang mendapatkan kesempatan untuk berhenti. Sistem pencernaan—lambung, usus, hati, dan ginjal—bekerja hampir sepanjang hari memproses makanan yang masuk tanpa jeda.

Puasa menghadirkan sesuatu yang langka: jeda biologis.

Sejak subuh hingga magrib, sistem pencernaan berhenti menerima asupan makanan. Lambung tidak bekerja sekeras biasanya. Usus tidak sibuk memproses nutrisi. Tubuh memasuki fase penyesuaian yang memberi kesempatan bagi organ-organ tersebut untuk memulihkan diri.

Rusmin mengibaratkannya seperti mesin pabrik. Mesin yang telah bekerja lama tidak bisa dipaksa terus beroperasi tanpa henti. Pada titik tertentu, mesin itu harus dimatikan untuk overhaul, perbaikan besar agar kembali optimal.

Begitulah tubuh manusia saat berpuasa.

Sel-sel tubuh mengalami proses peremajaan. Metabolisme yang semula tidak teratur mulai menata diri kembali. Bahkan bakteri dan virus yang biasanya berkembang dari pola makan berlebihan tidak mendapatkan kondisi ideal untuk berkembang.

“Tubuh manusia sebenarnya lebih kuat dan lebih bijaksana daripada yang kita bayangkan,” kata Rusmin.

Jiwa yang Belajar Menahan Diri

Namun puasa tidak berhenti pada tubuh. Ia juga memasuki wilayah yang jauh lebih kompleks: jiwa manusia.

Menurut Rusmin Tumanggor, kesehatan mental manusia ditopang oleh berbagai unsur: pikiran, emosi, naluri, motivasi, hingga kemampuan mengambil keputusan.

Puasa melatih semua unsur itu melalui satu kata kunci: pengendalian diri.

Orang yang berpuasa tidak hanya menahan lapar. Ia juga menahan amarah, menjaga kata-kata, dan mengendalikan dorongan emosional.

Di bulan Ramadan, manusia seolah diajak memperlambat hidupnya.

Lebih banyak membaca Al-Qur’an. Lebih banyak merenung. Lebih banyak bersabar.

Dalam proses itu, jiwa belajar menghadapi tekanan hidup—kecemasan, konflik batin, bahkan stres—dengan cara yang lebih tenang.

Puasa menjadi latihan psikologis tahunan yang membentuk ketahanan mental manusia.

Masyarakat yang Belajar Peduli

Dimensi berikutnya adalah kesehatan sosial.

Setiap Ramadan, pemandangan yang sama selalu muncul: orang-orang berkumpul di masjid untuk shalat tarawih, keluarga berbuka bersama, dan masyarakat berbagi makanan kepada yang membutuhkan.

Di situlah puasa memperbaiki hubungan manusia dengan sesamanya.

Ramadan menghadirkan berbagai mekanisme sosial yang memperkuat solidaritas: sedekah, zakat, dan kebiasaan saling memaafkan.

Baca juga : Ramadan di BM 400 Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman

Puasa juga mengingatkan manusia untuk menjaga kehalalan rezeki—menjauhi praktik yang merugikan orang lain seperti korupsi atau manipulasi.

Ketika nilai-nilai itu dijalankan bersama, masyarakat menjadi lebih hangat. Hubungan antarwarga tidak lagi sekadar formal, melainkan dipenuhi rasa saling peduli.

Jiwa yang Mendekat kepada Tuhan

Di balik semua dimensi itu, terdapat satu dimensi yang paling dalam: spiritualitas.

Spiritualitas adalah keadaan ketika manusia menemukan makna hidup melalui hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.

Puasa menjadi jalan menuju pengalaman tersebut.

Selama Ramadan, umat Islam memperbanyak ibadah: shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Aktivitas itu bukan sekadar ritual. Ia adalah sarana untuk menenangkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ketika seseorang membayar zakat atau bersedekah, ia juga merasakan kelegaan batin. Harta yang selama ini melekat pada dirinya berubah menjadi sarana berbagi.

Perasaan itu sederhana, tetapi dalam: rasa damai karena hidup terasa lebih bermakna.

Latihan Tahunan untuk Menjadi Manusia Utuh

Ketika azan magrib akhirnya berkumandang di auditorium, para peserta berbuka puasa bersama. Gelas air putih dan kurma menjadi penutup dari rangkaian diskusi tentang makna puasa yang lebih luas.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar ritual yang datang setahun sekali. Ia adalah latihan tahunan bagi manusia.

Puasa melatih tubuh untuk hidup lebih sehat. Melatih jiwa untuk lebih sabar. Melatih masyarakat untuk lebih peduli. Dan melatih manusia untuk kembali mengingat Tuhannya.

Setiap Ramadan memberi kesempatan baru bagi manusia untuk memperbaiki diri.

Pertanyaannya sederhana—tetapi tidak mudah dijawab: setelah Ramadan berlalu, apakah pelajaran itu masih akan bertahan?

Jika jawabannya ya, maka puasa bukan lagi sekadar ibadah musiman. Ia menjadi jalan pembentukan manusia seutuhnya—manusia yang sehat tubuhnya, matang jiwanya, hangat hubungannya dengan sesama, dan dekat dengan Tuhannya.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari sabda Nabi yang sederhana itu:Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.

Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman-1

Ramadan di BM 400: Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman

Cibubur — Suasana Ramadan terasa hangat di lingkungan Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur pada Jumat, 6 Maret 2026. Para pimpinan sekolah, kepala unit, guru, dan staf berkumpul dalam kegiatan Community Iftar Dinner di Infinity Hall. Acara ini bukan sekadar buka puasa bersama, melainkan juga ruang refleksi spiritual bagi civitas akademika sekolah.

Sejak pukul 15.30, para peserta mulai berdatangan. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Eka Fitriyanti, S.S. selaku pembawa acara. Selanjutnya pembacaan Al-Qur’an Juz 30 dan doa khatmil Qur’an yang dipimpin oleh Imron Nasihin, Lc. Pembacaan Al-Qur’an tersebut menjadi bagian dari tradisi yang telah dibangun di lingkungan Bakti Mulya 400 selama ini.

Chief Executive Officer Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si., dalam sambutannya menjelaskan bahwa pembacaan Al-Qur’an selama Ramadan merupakan upaya membudayakan khatam Al-Qur’an di kalangan guru dan karyawan.

“Empat tahun lalu kita mulai membangun tradisi membaca Al-Qur’an sampai tamat di bulan Ramadan. Saat itu capaian tertinggi di antara guru dan karyawan adalah khatam satu kali dalam bulan tersebut.  Namun sekarang di antara guru sudah ada yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an hingga sembilan kali dalam Ramadan,” ujar Sutrisno.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar aktivitas ritual. Ramadan, kata dia, harus menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sekaligus menjadi sarana pembentukan kepribadian spiritual para pendidik.

“Sebagai guru, kita tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual siswa, tetapi juga harus terus membina kedalaman spiritual kita sendiri. Ini sejalan dengan nilai dasar Bakti Mulya 400 yang menanamkan karakter religius,” kata Sutrisno.

Ia juga menyinggung perkembangan lembaga pendidikan Bakti Mulya 400 yang ada di Jakarta, Cibubur, dan Depok. Menurut dia, pertumbuhan semua unit tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang mengusung nilai religius, nasionalis, dan internasionalis.

“Nilai-nilai itu kini menjadi kebutuhan pendidikan masa kini. Karena itu kita harus terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat kompetensi profesional, dan mengembangkan kapasitas sebagai pendidik,” ujarnya.

Sutrisno menegaskan komitmennya untuk memimpin Bakti Mulya 400 menjadi sekolah besar yang tumbuh melalui kontribusi seluruh civitas akademika.

“Saya berkomitmen memimpin Bakti Mulya 400 menjadi sekolah besar yang dibesarkan oleh seluruh civitas akademikanya,” kata dia.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah Ramadan oleh Prof. Dr. Media Zainul Bahri, M.A., Guru Besar Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam ceramahnya, Media mengajak peserta merenungkan kembali makna iman dan Islam dalam perjalanan sejarah umat Muslim.

Ia memaparkan bahwa pada masa awal perkembangan Islam—yakni pada era Nabi Muhammad dan para sahabat—kata iman lebih dominan disebut dibandingkan kata Islam. Dalam kajian yang ia sampaikan, kata iman muncul sekitar 86 persen, sedangkan kata Islam sekitar 14 persen.

“Orang yang beriman diperintahkan untuk menjalankan nilai-nilai moral yang ditegaskan dalam Al-Qur’an,” ujar Media.

Ia kemudian menyebut beberapa contoh ajaran Al-Qur’an yang menekankan kualitas iman, seperti perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya (QS Ali Imran: 102), perintah berpuasa agar menjadi orang bertakwa (QS Al-Baqarah: 183), larangan memakan harta orang lain secara batil (QS An-Nisa: 29), hingga perintah menegakkan keadilan bahkan terhadap diri sendiri (QS An-Nisa: 135).

Namun, menurut Media, situasi mulai berubah ketika Islam menyebar luas ke berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Eropa sekitar abad ke-11 hingga ke-15. Pada masa itu, kata Islam mulai lebih sering digunakan daripada kata iman. Dalam periode tersebut, kata iman disebut sekitar 40 persen, sedangkan kata Islam mencapai 60 persen.

Baca juga : Ramadan sebagai Laboratorium Karakter di Sekolah Bakti Mulya 400

Perubahan itu semakin terlihat pada era modern, sejak sekitar abad ke-19 hingga sekarang. Dalam periode ini, kata iman hanya disebut sekitar 9 persen, sedangkan kata Islam mencapai 91 persen.

“Identitas Islam kemudian melekat pada banyak aspek kehidupan. Kita mengenal sekolah Islam, rumah sakit Islam, perumahan Islam, busana Muslim, bank Islam, bahkan negara Islam,” kata Media.

Menurut dia, fenomena tersebut berpotensi mendangkalkan makna iman jika tidak diimbangi dengan kualitas spiritual yang kuat.

“Tidak apa-apa menonjolkan identitas. Tapi kualitas iman jangan dilupakan. Iman adalah esensi dan substansi kualitas personal, sedangkan Islam adalah identitas, manifestasi, dan ekspresi personal,” ujarnya.

Media juga mengingatkan bahwa penyimpangan perilaku sering muncul ketika identitas agama tidak disertai kedalaman iman.

“Jangan sampai ada orang mengaku Islam tetapi melakukan kekerasan. Membunuh itu jelas diharamkan. Atau mengaku Islam tapi menyebarkan hoaks, padahal berbohong juga dilarang,” katanya.

Ia berpesan agar umat Islam tidak hanya merayakan identitas keislaman, tetapi juga memperkuat kualitas iman dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan membanggakan Islam kalau imannya rontok. Jangan sampai kita merayakan Islam, tetapi iman kita justru keok,” ujarnya.

Menurut Media, seorang Muslim yang benar-benar beriman akan tercermin dalam perilaku hidup yang bersih, disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki integritas.

Khusus kepada para guru, ia menegaskan pentingnya integritas spiritual dalam profesi pendidik.

“Kiat utama sebagai pendidik adalah memiliki integritas iman,” kata Media.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa yang dipimpin Abdullah Hanif, S.Pd. Para peserta menikmati ta’jil, melaksanakan salat Magrib berjamaah, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Di tengah suasana Ramadan, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga perjalanan membangun manusia yang beriman, berkarakter, dan berintegritas.

Ramadan sebagai Laboratorium Karakter di Sekolah Bakti Mulya 400-1

Ramadan sebagai Laboratorium Karakter di Sekolah Bakti Mulya 400

Jakarta–Cibubur — Bulan suci Ramadan dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan di lingkungan Sekolah Bakti Mulya (BM) 400, baik di unit BM 400 Jakarta maupun BM 400 Cibubur. Melalui rangkaian program edukatif dan spiritual yang terintegrasi lintas jenjang pendidikan, sekolah ini menjadikan Ramadan sebagai ruang pembelajaran karakter, refleksi moral, sekaligus penguatan nilai kemanusiaan bagi seluruh warga sekolah.

Rangkaian kegiatan berlangsung sejak 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Program dirancang sebagai ekosistem pembelajaran yang melibatkan siswa, guru, pimpinan sekolah, hingga masyarakat sekitar. Kegiatan mencakup kajian keislaman, tilawah Al-Qur’an, aksi sosial, serta festival Ramadan yang menekankan nilai kolaborasi dan kepedulian sosial.

Menurut Sofiandi, Lc., M.Pd., Ph.D., Islamic Program Department Head Sekolah Bakti Mulya 400, Ramadan seharusnya menjadi momentum transformasi pendidikan, bukan sekadar penguatan aktivitas ibadah rutin.

“Pendidikan Islam di sekolah modern tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan religius. Ia harus mampu membentuk kesadaran moral dan integritas pribadi peserta didik,” ujar Sofiandi dalam salah satu sesi kajian Ramadan.

Ia menambahkan, Ramadan merupakan ruang pembelajaran yang konkret bagi pembentukan karakter siswa. “Ramadan adalah laboratorium karakter. Di sinilah siswa belajar disiplin, empati, dan kesadaran spiritual secara nyata, bukan sekadar konsep di ruang kelas.”

Ini juga diamini oleh Deputi KPH Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur/ Academic Development, Hadi Suwarno, M.Pd, bahwa ini semua upaya menerjemahkan makna hakiki dari imaanan wah tisaaban  (إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا) yakni berpuasa dan beramal dengan penuh keimanan dengan mengharapkan pahala hanya dari Allah SWT selama bulan Ramadhan sehingga seluruh peserta didik memiliki kesadaran transenden di dalam melaksanakan ibadah tahunan ini.

Pendidikan Spiritual yang Terstruktur

Program Ramadan di Sekolah Bakti Mulya 400 disusun secara sistematis dan berjenjang sesuai karakteristik peserta didik.

Di tingkat sekolah dasar, pendekatan pembelajaran dilakukan melalui kegiatan aplikatif dan menyenangkan, seperti Tarhib Ramadan dan Mabit Ramadan yang bertujuan membangun kebiasaan ibadah sejak dini. Beragam aktivitas turut memeriahkan program ini, antara lain lomba cerdas cermat, lomba adzan, Islamic storytelling, lomba da’i cilik, literasi agama, pembuatan kartu ucapan Ramadan, keterampilan religi seperti tasbih dan qalam, kaligrafi, pertunjukan seni, pemutaran film Islami, zakat fitrah, santunan anak yatim, hingga khatmul Qur’an.

Pada jenjang SMP, kegiatan One Day One Juz menjadi agenda harian yang melibatkan guru dan siswa dalam tilawah Al-Qur’an secara kolektif. Kajian tematik juga digelar setiap hari dengan tema yang relevan dengan dunia pendidikan, mulai dari keikhlasan sebagai ruh pendidikan hingga etika sosial dalam lingkungan sekolah.

Sementara itu, siswa SMA menjalankan program tahsin Al-Qur’an rutin, kegiatan sosial berupa pembagian takjil kepada masyarakat, serta santunan anak yatim sebagai bagian dari pembelajaran empati sosial.

Penguatan Spiritual bagi Guru dan Karyawan

Tidak hanya siswa, guru dan karyawan juga menjadi bagian dari proses pembelajaran Ramadan. Sekolah menggelar pelatihan An-Naghom fil Qur’an—seni tilawah Al-Qur’an dengan lagam Rost—setiap Rabu bersama Ustadz Ahmad Dasuki.

Selain itu, kajian kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Atha’illah as-Sakandari diselenggarakan setiap Senin dengan narasumber K.H. Dahyal Afkar, Lc., sebagai ruang refleksi spiritual bagi para pendidik.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak hanya diarahkan kepada siswa, tetapi juga dimulai dari pendidik sebagai teladan utama di lingkungan sekolah.

Pendidikan yang Menyentuh Dimensi Kemanusiaan

Dimensi sosial menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan Ramadan. Sekolah mengadakan pengumpulan dan pendistribusian Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) kepada masyarakat yang membutuhkan. Program ini menjadi media pembelajaran nyata tentang solidaritas sosial dan tanggung jawab kemanusiaan.

Baca juga : Gapai Berkah Ramadan, Sekolah BM 400 Depok Gelar Bakti Sosial untuk Warga Sekitar

Menurut Sofiandi, pendekatan Ramadan di Bakti Mulya 400 dirancang selaras dengan visi pendidikan holistik sekolah. “Kami ingin siswa memahami bahwa ibadah bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dengan manusia dan lingkungan.”

Menyiapkan Generasi Berkarakter

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Sekolah Bakti Mulya 400 berupaya menjadikan Ramadan sebagai pengalaman pendidikan yang membekas—mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Di tengah tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks, pendekatan integratif ini menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang pembentukan karakter yang hidup, tempat nilai agama, kemanusiaan, dan pembelajaran masa depan berjalan beriringan.

Gapai Berkah Ramadan, Sekolah BM 400 Depok Gelar Bakti Sosial untuk Warga Sekitar-4

Gapai Berkah Ramadan, Sekolah BM 400 Depok Gelar Bakti Sosial untuk Warga Sekitar

Depok, 28 Februari 2026 — Suasana halaman Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 Depok pada Sabtu pagi tampak berbeda. Ratusan paket sembako tersusun rapi, relawan hilir mudik menyiapkan distribusi, sementara warga sekitar mulai berdatangan. Di tengah momentum Ramadan 1447 Hijriah, Sekolah Bakti Mulya 400 Depok menggelar kegiatan bakti sosial perdana bertajuk “Bersama dalam Kebaikan, Bersatu dalam Kepedulian.”

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah ini terselenggara atas dukungan penuh Yayasan Amanah Cerdas Bangsa bersama Sekolah Bakti Mulya 400 sebagai bagian dari syiar Ramadan sekaligus wujud nyata kepedulian sosial kepada masyarakat sekitar.

Sebanyak 900 paket sembako dibagikan kepada warga di sejumlah wilayah sekitar sekolah. Distribusi dilakukan secara terkoordinasi, meliputi 650 paket untuk tujuh RT di sekitar Sekolah BM 400 Depok, 105 paket untuk Kelurahan Beji Timur, 50 paket untuk wilayah Cijeruk, serta 100 paket bagi masyarakat Jagakarsa.

Acara ini dihadiri oleh Pembina Yayasan Amanah Cerdas Bangsa Jenderal Polisi (Purn.) Tan Sri Drs. Badrodin Haiti, CEO Sekolah Bakti Mulya 400 Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si, Lurah Kukusan Kholifah, SH, serta pembacaan doa oleh Dr. H. Basuni Immamuddin, SS., MA, dosen Universitas Indonesia.

Dalam sambutannya, CEO Sekolah Bakti Mulya 400, Sutrisno Muslimin, menegaskan bahwa kehadiran sekolah tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal, tetapi juga pada dampak sosial yang lebih luas.

“Kami berharap kehadiran BM 400 Depok menghadirkan efek domino berupa perbaikan lingkungan sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Sementara itu, Badrodin Haiti menekankan bahwa kegiatan sosial ini merupakan bagian dari kontribusi nyata Yayasan Amanah Cerdas Bangsa bagi masyarakat Depok, terutama melalui penguatan sektor pendidikan.

“Salah satu bentuk pengabdian terbaik kepada masyarakat adalah memajukan pendidikan. Melalui pendidikan yang berkualitas, masa depan generasi bangsa dapat dibangun secara berkelanjutan,” katanya.

Lurah Kukusan, Kholifah, menyambut positif kegiatan tersebut dan berharap kolaborasi antara sekolah dan masyarakat dapat terus terjalin.

“Kami berharap seluruh masyarakat dapat berkolaborasi, baik dalam proses pembangunan maupun selama kegiatan belajar mengajar berlangsung di BM 400 Depok,” tuturnya.

Pendidikan Berbasis Karakter Global

Sekolah Bakti Mulya 400 Depok hadir sebagai institusi pendidikan berkarakter Islam, Nasional, dan Internasional. Selama ini, Bakti Mulya 400 dikenal sebagai sekolah yang menekankan keseimbangan antara prestasi akademik dan pembentukan karakter.

Sekolah ini mengintegrasikan tiga pilar kurikulum utama — Islamic, Nationalist, dan Internationalist — yang dirancang untuk membentuk siswa unggul secara akademik, kuat secara spiritual, serta memiliki wawasan global. Pendekatan tersebut diharapkan melahirkan lulusan yang tidak hanya siap menghadapi tantangan zaman, tetapi juga memiliki fondasi nilai yang kokoh.

Dalam implementasinya, BM 400 Depok menggunakan Cambridge Assessment International Education Framework, yang mendorong penguasaan keterampilan abad ke-21 seperti critical thinking, communication, collaboration, dan creativity (4C). Nilai-nilai Islam ditanamkan melalui pembiasaan ibadah harian, pembelajaran Al-Qur’an, serta kegiatan karakter Islami yang terintegrasi dalam kehidupan sekolah.

Baca juga : Studi Tiru Madrasah Pembangunan UIN Jakarta di Sekolah BM 400

Selain akademik, pengembangan karakter dan soft skills menjadi perhatian utama. Melalui kegiatan kolaboratif, project-based learning, serta keterlibatan dalam aktivitas sosial, siswa dilatih menjadi calon pemimpin muda yang memiliki empati dan tanggung jawab sosial.

Panitia kegiatan menyampaikan bahwa bakti sosial ini bukan sekadar agenda seremonial Ramadan, melainkan bagian dari pendidikan karakter berbasis aksi nyata.

Kegiatan berlangsung lancar dan mendapat apresiasi luas dari para tamu undangan maupun warga penerima manfaat. Sekolah Bakti Mulya 400 Depok berharap keberadaannya dapat terus memberi kontribusi nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara sekolah dan lingkungan sekitar.

Studi Tiru Madrasah Pembangunan UIN Jakarta di Sekolah BM 400-3

Studi Tiru Madrasah Pembangunan UIN Jakarta di Sekolah BM 400

Selasa pagi, 24 Februari 2026, ruang pertemuan Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 Cibubur menjadi titik temu dua institusi pendidikan yang sama-sama menaruh perhatian besar pada tata kelola dan mutu. Delegasi dari Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan kunjungan studi tiru guna mempelajari secara langsung sistem manajemen, strategi branding, penguatan mutu akademik, inovasi pembelajaran, serta layanan peserta didik dan orang tua yang diterapkan di lingkungan BM 400.

Hadir dalam rombongan tersebut Prof. Dr. Asep Syarifudin Hidayat, SH., MH. (guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Pengurus YBKP Bakti Mulya 400), Drs. H. Teguh Sarwono, M.Si. (Direktur Badan Usaha Sekolah (BUS)), Abdul Halim Mahmudi, S.H.I. (Plt. Wakil Direktur Bidang Administrasi Umum dan Keuangan BUS), Prof. Dr. Zulfiani, S.Si., M.Pd. (Plt. Wakil Direktur Bidang Akademik dan IT BUS), Eny Supriyati Rosyidatun, S.Si., M.A. (Plt. Penjaminan Mutu BUS), M. Agung Sya’ban, S.E. (Plt. Kepala Bagian SDM dan Keuangan pada Madrasah Pembangunan), Firman Hamdani, M.Ag. (Plt. Kepala Bagian Pendidikan pada Madrasah Pembangunan), Efron Paulusia, S.E. (Plt. Kepala Bagian Umum pada Madrasah Pembangunan), M. Ahsanul Umam, S.Pd. (Plt. Kepala Subbagian Humas pada Madrasah Pembangunan), Ahmad Shohibul Wafa ZA., M.Pd., (Plt. Koordinator Pengembangan Pembelajaran pada Madrasah Pembangunan) dan Tri Suwarno Handoko Noviyanto, S.Pd., M.Pd. (Arsiparis Ahli Pertama pada Badan Usaha Sekolah).

Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda penguatan kelembagaan yang berada di bawah naungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya melalui Badan Usaha Sekolah (BUS) yang menaungi unit pendidikan tersebut. Tidak sekadar kunjungan formal, studi tiru ini menjadi forum pertukaran gagasan dan praktik baik (best practices) dalam pengelolaan lembaga pendidikan modern yang profesional dan berkelanjutan.

Forum Pembuka: Menyatukan Visi Pengelolaan Sekolah

Acara dibuka oleh MC, Wulan Yulian, pada pukul 09.00 WIB. Dalam sambutannya, Chief Operating Officer (COO) BM 400, Euis Tresna, M.Si., menekankan bahwa keberhasilan sekolah tidak lahir dari satu program unggulan semata, melainkan dari konsistensi sistem yang dirancang dengan visi jangka panjang.

“Sekolah hari ini bukan hanya institusi pendidikan, tetapi organisasi pembelajar yang harus adaptif, terukur, dan akuntabel. Manajemen yang kuat adalah fondasi lahirnya layanan pendidikan yang unggul,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut juga hadir pimpinan sekolah BM 400 diantaranya Hadi Suwarno, M.Pd. (Chief Academic Officer (CAO)), Raden Saiful Achmad, S.Pd. (General Affair & Procurement Division Head), Titim Wibawayati Asapa, S.Sos., M.Si. (Human Resources Division Head), Agusalim, S.E., Ak., M.Si. (Business & Finance Development), Slamet Suwanto, M.Pd. (Principal TK-SD Cibubur), Iryanto Yossa, M.Si. (Principal SMP–SMA Cibubur), Mendy Andriana, S.Hum., M.Pd. (Principal TK Jakarta), Leli Sugiarti, M.Si. (Principal SMP Jakarta), Andi Gunawan, M.LIS. (Principal SMA Jakarta) dan Hasanuddin, M.Pd. – Kepala Biro Umum & Administrasi Cibubur.

Sambutan tamu disampaikan oleh Direktur Badan Usaha Sekolah UIN, Drs. H. Teguh Sarwono, M.Si., yang menggarisbawahi pentingnya keterbukaan antar-lembaga dalam membangun mutu. Ia menyampaikan apresiasi atas kesempatan belajar langsung dari praktik pengelolaan di BM 400.

“Kami ingin memastikan bahwa pengelolaan unit pendidikan di lingkungan kami bertumbuh secara profesional, dengan sistem yang rapi dan strategi branding yang tepat. Karena di era kompetitif ini, mutu dan kepercayaan publik berjalan beriringan,” tuturnya.

Paparan Strategis: Dari Branding hingga Mutu Akademik

Sesi utama dipaparkan oleh Chief Academic Officer (CAO) BM 400, Hadi Suwarno, M.Pd. Dalam presentasi komprehensifnya, ia memaparkan model manajemen sekolah yang diterapkan di unit Jakarta dan Cibubur—mulai dari pengembangan kurikulum, penguatan budaya mutu, hingga tata kelola kehumasan dan media.

Beberapa poin penting yang menjadi perhatian delegasi antara lain inovasi pembelajaran dan pengembangan program, pengelolaan kurikulum dan penguatan mutu akademik, layanan peserta didik serta sistem komunikasi dengan orang tua, ntegrasi manajemen SDM dan keuangan dalam menunjang mutu dan sistem manajemen dan strategi branding sekolah.

Diskusi berlangsung dinamis. Delegasi Madrasah Pembangunan UIN Jakarta menggali lebih dalam mengenai sistem penjaminan mutu internal, pengembangan SDM, serta strategi membangun citra lembaga berbasis kinerja nyata.

Kunjungan Lapangan: Menyaksikan Sistem dalam Praktik

Setelah sesi dialog, rombongan melakukan kunjungan ke sejumlah fasilitas sekolah, dipandu oleh Hasanuddin, M.Pd., selaku Kepala Biro Umum & Administrasi Cibubur. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat langsung implementasi sistem yang telah dipaparkan—mulai dari pengelolaan administrasi, layanan siswa, hingga penguatan kultur akademik di lingkungan sekolah.

Baca juga : Sudirman Said: Sekolah BM 400 Cibubur Berpotensi Cetak Pemimpin Bangsa Berintegritas

Pertemuan ini menegaskan bahwa dalam lanskap pendidikan yang terus berubah, kolaborasi antar-lembaga menjadi keniscayaan. Studi tiru bukan sekadar agenda seremonial, melainkan proses saling belajar yang mempercepat pertumbuhan institusi.

Di ruang pertemuan itu, dua institusi pendidikan bertukar gagasan. Bukan hanya tentang program, tetapi tentang cara menjaga relevansi sekolah di era yang berubah cepat. Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak dibangun dalam sunyi—melainkan melalui dialog, evaluasi, dan keberanian untuk terus belajar.

sudirmansaid

Sudirman Said: Sekolah BM 400 Cibubur Berpotensi Cetak Pemimpin Bangsa Berintegritas

Cibubur, 19 Februari 2026 — Sudirman Said, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia pada Kabinet Kerja (2014 -2016),narasumber pemikiran pendidikan di Sekolah BM 400 memberikan sharing session dan kuliah umum di ruang meeting Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur pada Kamis (19/02/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh CEO Sekolah Bakti Mulya 400, Sutrisno Muslimin, jajaran pimpinan sekolah, serta perwakilan guru dari berbagai jenjang pendidikan.

Dalam kesempatan tersebut, Sudirman Said menyampaikan kesan mendalam terhadap Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, baik dari sisi rancangan fisik maupun kualitas interaksi sosial para guru dan pimpinan sekolah.

“Saya memiliki kesan sangat mendalam karena sekolah ini, dalam rancangan fisiknya maupun interaksi sosial para gurunya, menunjukkan bahwa ini adalah sekolah idaman yang disiapkan dengan sangat baik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kualitas sekolah yang baik bukanlah kebetulan, melainkan buah dari empat faktor utama. Pertama, kepemimpinan yayasan yang profesional. Kedua, kepemimpinan sekolah yang diisi oleh figur-figur berdedikasi. Ketiga, guru-guru yang memiliki passion dalam mendidik. Dan keempat, komitmen para founder dalam menyiapkan infrastruktur terbaik bagi keberlangsungan pendidikan.

Menurutnya, perpaduan antara tata kelola yang profesional dan semangat pengabdian para pendidik menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan.

Pendidikan untuk Generasi Emas

Dalam kuliah umumnya, Sudirman Said menekankan bahwa cita-cita menciptakan generasi emas Indonesia hanya dapat terwujud apabila setiap anak Indonesia mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak dan berkualitas.

“Untuk menciptakan generasi emas, maka setiap anak Indonesia harus mendapat kesempatan pendidikan. Tidak boleh ada yang tertinggal,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan merupakan tempat melembagakan proses—sebuah sistem yang memungkinkan siswa menempuh tahapan-tahapan pembelajaran secara terstruktur guna meraih kesuksesan di masa depan. Sekolah, dalam pandangannya, bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi institusi yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan integritas.

Lebih jauh, ia mengaitkan isu pendidikan dengan tantangan nasional dalam pengelolaan sumber daya alam. Menurutnya, salah satu persoalan utama Indonesia adalah adanya kesenjangan antara manajemen dan kepemimpinan.

“Masalah utama dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia adalah adanya gap antara manajemen dan kepemimpinan. Kita punya sumber daya melimpah, tetapi tidak selalu diiringi kepemimpinan yang kuat dan berintegritas,” ungkapnya.

baca juga : Makan Sehat vs Makan Sekadar Kenyang di Bulan Ramadhan

Karena itu, ia berharap Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur dapat menjadi ruang tumbuh bagi calon-calon pemimpin bangsa yang jujur, amanah, dan penuh integritas. Pendidikan, katanya, harus memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berkembang—tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan kepemimpinan.

Komitmen Mencetak Pemimpin Masa Depan

Di akhir sesi, Sudirman Said menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh jajaran Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur atas dedikasi dan komitmennya dalam membangun institusi pendidikan yang berkualitas.

“Saya menyampaikan selamat. Mudah-mudahan sukses menjadi pencetak para pemimpin generasi masa datang,” tutupnya.

Kegiatan sharing session ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur untuk terus menghadirkan pendidikan yang unggul, berkarakter, dan berorientasi pada pembentukan kepemimpinan masa depan Indonesia.

isipiring

Makan Sehat vs Makan Sekadar Kenyang di Bulan Ramadhan

Merujuk pada paparan dr. David Fadjar Putra, MS, Sp.GK

Puasa adalah salah satu tradisi tertua dalam sejarah manusia. Dalam paparan ilmiahnya, dr. David Fadjar Putra, MS, Sp.GK—dokter spesialis gizi klinik RS Pondok Indah—menjelaskan bahwa puasa pada awalnya bermula dari tuntutan alam untuk bertahan hidup (survive). Seiring perkembangan peradaban, puasa menjadi bagian dari budaya dan agama. Hampir semua budaya dan agama mengenal praktik puasa. Kini, puasa juga dipahami dalam perspektif sains kedokteran modern.

Dalam presentasinya bertajuk “Makan Sehat vs Makan Kenyang di Bulan Ramadhan”, yang diikuti oleh seluruh guru Sekolah Bakti Mulya 400 (Rabu, 18/02/26), dr. David memaparkan manfaat puasa berdasarkan ilmu pengetahuan, sekaligus mengingatkan pentingnya pola makan yang tepat selama Ramadhan.

Manfaat Puasa Berdasarkan Sains Kedokteran Modern

1. Untuk Metabolisme

Setelah 12–16 jam tanpa makanan, tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi. Proses ini membantu:

  1. Mengendalikan kadar gula darah
  2. Mengembalikan sensitivitas insulin

Artinya, puasa yang dijalankan dengan baik berkontribusi terhadap perbaikan metabolisme tubuh.

2. Cellular Repair (Autophagy)

Dr. David mengutip penelitian Prof. Yoshinori Ohsumi, peraih Nobel tahun 2016. Setelah puasa 16–24 jam, terjadi proses autophagy, yaitu penghancuran organel sel yang tua dan sisa metabolisme untuk kemudian didaur ulang menjadi komponen baru. Proses ini berperan dalam peremajaan sel.

3. Perbaikan Kardiovaskuler

Puasa berkontribusi pada:

  1. Penurunan tekanan darah
  2. Penurunan kadar kolesterol
  3. Penurunan stres oksidatif

Efek ini mendukung kesehatan sistem kardiovaskular.

4. Obesitas

Puasa dapat membantu:

  1. Menurunkan berat badan
  2. Mengurangi lemak viseral

5. Anti-Aging

Manfaat ini berkaitan dengan

  1. Proses autophagy
  2. Perbaikan sistem imun.

Perlukah Makan Berlebihan Saat Puasa?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah perlu makan berlebihan untuk mengisi cadangan energi?

Dr. David menjelaskan bahwa pada orang dewasa sehat, cadangan energi tubuh sebenarnya sangat besar:

  1. Glikogen di hati dan otot: sekitar 1.500–2.000 kkal
  2. Lemak tubuh: sekitar 7.000 kkal per kilogram

Sebagai contoh, laki-laki dewasa dengan berat 80 kg dan 20% lemak tubuh (sekitar 16 kg lemak) memiliki:

  1. 2.000 kkal dari glikogen
  2. 112.000 kkal dari lemak
  3. Total sekitar 114.000 kkal cadangan energi

Data ini menunjukkan bahwa tubuh memiliki cadangan energi yang cukup, sehingga makan berlebihan bukanlah kebutuhan fisiologis.

Obesitas dan Indeks Massa Tubuh (IMT)

Dr. David juga memaparkan kriteria obesitas berdasarkan IMT.

baca juga : Tarhib Ramadhan Sekolah BM 400: Ibadah sebagai Fondasi dan Lompatan Peradaban

Kriteria WHO:

  1. Underweight: <18,5
  2. Normal: 18,5–24,9
  3. Overweight: 25–29,9
  4. Obesitas: >30
  5. Obesitas morbid: >40

Kriteria Asia Pasifik:

  1. Underweight: <18,5
  2. Normal: 18,5–23
  3. Overweight: 23,1–25
  4. Obesitas: >25,1

Cara menghitung IMT:
Berat badan (kg) dibagi tinggi badan (meter) dibagi tinggi badan (meter) atau kg/m².

Efek Negatif Makan Berlebihan

Efek Jangka Pendek:

  1. Indigestion
  2. Refluks asam lambung (GERD)
  3. Begah (bloated)
  4. Letargi (food coma)

Efek Jangka Panjang:

  1. Lambung melar sehingga sensor kenyang berkurang
  2. Obesitas
  3. Stres pada hati dan ginjal akibat banyaknya “sampah” metabolisme
  4. Gangguan metabolisme dan hormonal
  5. Lonjakan gula darah (blood sugar spike)
  6. Resistensi leptin (kehilangan rasa kenyang)
  7. Dampak psikologis seperti penyesalan dan rasa bersalah

Makan Sehat di Bulan Ramadhan

Dr. David menegaskan pentingnya kembali pada prinsip gizi seimbang. Jika dahulu dikenal konsep “4 Sehat 5 Sempurna”, kini digunakan pendekatan “Isi Piringku”.

Saat Sahur:

  1. Makan secukupnya sesuai prinsip Isi Piringku
  2. Minum air yang cukup
  3. Kurangi makanan asin

Saat Berbuka:

  1. Minum air putih
  2. Konsumsi buah yang banyak mengandung air untuk rehidrasi
  3. Snack ringan
  4. Makan malam secukupnya sesuai menu Isi Piringku

Pesan Utama

Puasa memberikan manfaat metabolik, perbaikan seluler, perbaikan kardiovaskular, penurunan berat badan, serta efek anti-aging. Namun manfaat tersebut dapat berkurang jika pola makan tidak terkontrol.

Makan sehat berarti makan secukupnya dan seimbang. Sementara makan sekadar kenyang, apalagi berlebihan, justru berisiko menimbulkan gangguan jangka pendek maupun jangka panjang.

Ramadhan bukan hanya waktu menahan lapar, tetapi momentum untuk mengelola tubuh secara lebih bijak dan ilmiah.

Tarhib Ramadhan Sekolah BM 400 Ibadah sebagai Fondasi dan Lompatan Peradaban-4

Tarhib Ramadhan Sekolah BM 400: Ibadah sebagai Fondasi dan Lompatan Peradaban

Jakarta — Sekolah Bakti Mulya 400 (BM 400) menyambut bulan suci melalui gelaran Tarhib Ramadhan bertema “How Our Worship Defines Our Worldview”, Jumat, 13 Januari 2026, pukul 15.30 WIB, di Auditorium Ki Hadjar Dewantara, Bakti Mulya 400 Lower Secondary. Acara ini dihadiri oleh seluruh pimpinan, guru, dan karyawan Sekolah BM 400 Jakarta, Cibubur, dan Depok, sebagai bentuk konsolidasi spiritual dan kelembagaan menjelang Ramadhan. Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi bersama di tengah pertumbuhan institusi yang kian signifikan.

Hadir sebagai pembicara utama CEO BM 400, Dr. Sutrisno Muslimin. M.Si., dan narasumber tausiah, Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Launching Program Summit Ramadhan 2026, menandai keseriusan sekolah dalam mengintegrasikan pembinaan spiritual ke dalam agenda pendidikan tahunan.

Kepercayaan Publik dan Pertumbuhan Institusi

Dalam sambutannya, Dr. Sutrisno Muslimin. M.Si., menegaskan bahwa kemajuan Sekolah Bakti Mulya 400 di Pondok Indah, Lebak Bulus, Cibubur, hingga unit terbaru di Depok merupakan refleksi meningkatnya kepercayaan masyarakat.

“Kepercayaan publik terus tumbuh seiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan yang kita laksanakan. Ini adalah amanah,” ujarnya.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut bukan sekadar ekspansi geografis, tetapi penguatan mutu akademik, tata kelola, serta pembinaan karakter. Ia mengingatkan bahwa kemajuan lembaga tidak dapat dilepaskan dari dimensi spiritual.

“Ramadhan ini, mari kita tingkatkan amal ibadah kita. Perbanyak memunajatkan doa, karena kemajuan Bakti Mulya 400 tidak lepas dari campur tangan dan ridho Allah SWT,” tuturnya.

Ia juga mendorong seluruh civitas akademika untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an selama bulan suci. Minimal satu kali khatam, menurutnya, menjadi target spiritual yang konkret. “Mereka yang bertekun selama Ramadhan diharapkan menjadi pribadi yang lebih baik—sholeh dan sholehah—yang menjadi uswatun hasanah di tengah masyarakat.”

Makna Tarhib dan Ukuran Pertumbuhan Diri

Dalam sesi hikmah Tarhib Ramadhan, Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si. mengurai makna tarhib dari sisi bahasa dan spiritualitas. Tarhib berasal dari kata Arab tarhīb (تَرْحِيْبٌ) yang berarti penyambutan atau menerima dengan tangan terbuka. Akar katanya, rahaba–yarhabu–rahaban, bermakna melapangkan atau meluaskan—menggambarkan kesiapan jiwa dan raga menyambut bulan suci dengan kegembiraan.

“Ramadhan adalah anugerah yang setiap tahun Allah pertemukan kembali dengan kita,” ujarnya. Waktu berputar, bulan berganti, hingga manusia kembali bertemu Ramadhan. Namun, ia mengingatkan, jangan sampai manusia tetap berada di kualitas yang sama.

Karena hadir setiap tahun, Ramadhan menjadi ukuran pertumbuhan diri. “Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan. Jadikan Ramadhan sebagai titik lonjakan—lonjakan iman, ilmu, akhlak, dan kualitas diri—agar ketika ia pergi, kita tidak kembali seperti semula, tetapi naik satu derajat lebih tinggi di hadapan Allah dan di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ibadah sebagai Worldview

Tema besar “How Our Worship Defines Our Worldview” menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan. Di lingkungan BM 400, ibadah dipahami bukan sekadar kewajiban individual, melainkan fondasi pembentukan karakter kolektif.

Acara berlangsung terstruktur sejak registrasi pukul 15.45 WIB, dilanjutkan penampilan pembuka Band SMA, pembukaan oleh MC, pembacaan ayat suci Al-Qur’an (Al-Baqarah: 183), serta doa pembuka yang turut mendoakan para pendiri Sekolah BM 400.

baca juga : Bakti Sosial BM400: Khitanan Massal, Layanan Kesehatan, dan Aksi Lingkungan

Atmosfer auditorium memadukan nuansa khidmat dan optimisme. Simbol-simbol Ramadhan menjadi latar visual yang menguatkan pesan bahwa ibadah bukan hanya ritual personal, melainkan pembentuk cara pandang—worldview—yang akan memengaruhi keputusan, etos kerja, dan orientasi hidup.

Tarhib Ramadhan tahun ini menjadi penanda bahwa pertumbuhan institusi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan spiritual warganya. Gedung boleh bertambah, siswa boleh meningkat, tetapi yang lebih penting adalah kualitas manusia yang dilahirkan.

Ramadhan datang setiap tahun. Namun, sebagaimana ditegaskan para pembicara, yang menentukan adalah apakah manusia ikut bertumbuh bersamanya.

tubnails-khitanan-massal-bm400

Bakti Sosial BM400: Khitanan Massal, Layanan Kesehatan, dan Aksi Lingkungan

Minggu pagi, 16 November 2025, halaman Sekolah Bakti Mulya  (BM) 400 Cibubur berubah menjadi panggung kegiatan sosial berskala besar. Udara masih sejuk ketika para panitia mulai menata area registrasi, membersihkan meja tindakan, hingga memeriksa kembali perangkat medis. Namun sesaat sebelum pukul tujuh, suasana segera hidup: anak-anak bersarung berlarian, orang tua menenteng tas dan baju ganti, sementara relawan memandu mereka menuju area tunggu.

Hari itu, sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar berubah menjadi ruang pelayanan publik. Sebanyak 135 anak mengikuti khitanan massal, sementara 200 peserta—gabungan dari civitas sekolah dan warga sekitar—mendapat layanan pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan mata secara gratis. Belum selesai di sana, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon penghijauan dan pembagian bak sampah untuk mendorong budaya kebersihan lingkungan.

Di tengah pergerakan besar ini berdiri sosok sentral: Ir. Anna Rosita Subagdja, Presiden Direktur RS Pondok Indah Group sekaligus Ketua Pengurus Yayasan Bakti Mulya 400, yang hadir sebagai inisiator kegiatan tersebut.  Kegiatan ini menggandeng Lions Club, organisasi kemanusiaan internasional yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam aksi pelayanan sosial, menjadi pelaksana kegiatan yang memastikan acara berjalan tertib, aman, dan memberi manfaat yang terukur.

Gabungan tiga pilar—pendidikan, kesehatan, dan organisasi kemanusiaan—menjadi nyawa dari gerakan bakti sosial tahun ini.

Kepedulian Lintas Lembaga yang Menguat

Dalam sambutannya, Anna Rosita menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kegiatan tahunan atau aksi amal sesaat. Ia menyampaikan bahwa apa yang dilakukan hari itu merupakan wujud nyata kepedulian antar lembaga—mulai dari RS Pondok Indah Group, Yayasan Bakti Mulya 400, Lions Club dan semua mitra sponsor—yang memiliki komitmen serupa terhadap pengabdian publik.

Kolaborasi ini tidak berhenti pada penyelenggaraan acara. Kita ingin memberikan nilai tambah bagi masyarakat, sekaligus menegakkan tanggung jawab sosial setiap lembaga. Harapan saya, kerja sama lintas institusi seperti ini terus berlanjut dan meluas, sehingga dampaknya semakin besar bagi masyarakat di sekitar kita,” ujarnya di hadapan ratusan peserta.

Pernyataan tersebut menegaskan fondasi moral kegiatan ini: bakti sosial hanya bermakna jika dilakukan bersama, dengan integritas, dan untuk kemaslahatan jangka panjang.

Ritus Budaya yang Terjaga di Era Modern

Khitan massal merupakan tradisi yang mengakar dalam masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, khitan menjadi ritus kedewasaan sekaligus acara keluarga besar. Namun tradisi ini membutuhkan pendekatan modern untuk memastikan keamanan dan kenyamanan peserta anak-anak.

Berkolaborasi dengan RS Pondok Indah Group, BM400 menghadirkan standar medis modern dalam pelaksanaan khitan massal. Ruang tindakan ditata seperti mini-klinik: alat steril disiapkan, petugas medis dalam seragam putih bekerja tenang, sementara perawat memeriksa ulang data peserta. Hal ini membuat khitan massal hari itu terasa berbeda—tradisi yang dibalut profesionalisme.

  •  Warga Mengakses Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Sementara ruang tindakan penuh oleh peserta khitan, area pemeriksaan kesehatan dipadati peserta dari kalangan warga sekitar. Sebanyak 200 orang ikut serta dalam tiga layanan: cek gula darah, cek kolesterol, dan pemeriksaan mata.

Petugas medis RSPI tidak hanya memberikan hasil pemeriksaan, tetapi juga edukasi terkait risiko kesehatan dan pola hidup yang lebih baik. Ada yang terkejut mengetahui kadar gula mereka tinggi, ada pula yang baru sadar memiliki gejala awal katarak.

Bakti sosial seperti ini memperlihatkan bahwa akses kesehatan bukan hanya soal fasilitas—tetapi soal jangkauan. Dan hari itu, jangkauan itu dibawa masuk tepat ke tengah masyarakat.

Penanaman Pohon dan Pembagian Bak Sampah

Siang menjelang ketika relawan dan civitas acedemica BM 400 bergerak ke area taman  sekolah untuk melakukan penanaman pohon penghijauan. Bibit-bibit tabebuya, ketapang mini, pucuk merah, hingga trembesi mini ditanam di sejumlah titik strategis.

Program ini berangkat dari pemahaman bahwa kesehatan masyarakat bukan hanya soal tubuh, tetapi juga lingkungan yang bersih, sejuk, dan berkelanjutan.

Baca juga : Sekolah BM 400 Depok Buka Pendaftaran Murid Baru

Sebagai penutup, panitia membagikan bak sampah. Bak sampah ini dilengkapi stiker edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik. Meski tampak sederhana, langkah ini merupakan pendekatan strategis untuk memperbaiki manajemen sampah di lingkungan sekitar sekolah.

Pembagian bak sampah menjadi simbol bahwa bakti sosial bukan hanya mengenai pelayanan langsung, tetapi tentang mengubah budaya, membangun kebiasaan, dan memperkuat ketertiban lingkungan.

Sekolah sebagai Ruang Humanisme Baru

Apa yang terjadi di BM400 hari itu menunjukkan bahwa sekolah bisa menjadi simpul kuat pengabdian sosial. Bukan hanya ruang akademik, tetapi ruang kebersamaan, kepedulian, dan kolaborasi.

Dalam satu hari, BM400 berhasil: menghadirkan layanan kesehatan bagi 200 warga, membantu 135 anak melalui pengalaman khitan yang lebih manusiawi, menanam puluhan pohon untuk masa depan lingkungan, memperkuat budaya kebersihan melalui pembagian bak sampah dan menyatukan sejumlah lembaga besar dalam satu gerakan sosial terpadu.