Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan

Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan

Yayasan BKSP Bakti Mulya 400 menggelar Halal Bihalal keluarga besar sekolah pada Senin pagi, 30 Maret 2026, di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP Bakti Mulya 400 Jakarta. Mengusung tema “Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan”, acara ini menjadi lebih dari sekadar tradisi saling memaafkan. Ia menjelma sebagai ruang refleksi kolektif tentang arah pendidikan, kualitas manusia, dan tanggung jawab kebangsaan yang dipikul lembaga pendidikan.

Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran pengurus yayasan, pimpinan sekolah, guru, karyawan, serta menghadirkan penceramah utama Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Ketua Umum MUI DKI Jakarta periode 2023–2028 sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman.

Pendidikan yang Baik Lahir dari Proses yang Dikelola Guru Berkualitas

Dalam sambutannya, CEO Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, menegaskan satu hal mendasar: capaian pendidikan yang baik tidak ditentukan oleh kualitas input siswa semata, melainkan oleh kualitas proses pendidikan yang dikelola para guru.

“Sekolah yang hebat bukan sekolah yang hanya menerima siswa-siswa terpilih. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu mengelola proses pendidikan secara unggul melalui guru-guru yang kompeten dan saleh,” ujarnya.

Kesalehan itu, menurutnya, bukan konsep abstrak. Ramadan menjadi tolok ukur yang konkret. Ia menyebut, tahun ini terdapat delapan guru Bakti Mulya 400 yang berhasil menghatamkan Al-Qur’an hingga sepuluh kali selama Ramadan—sebuah indikator disiplin ruhani yang diyakini berbanding lurus dengan kualitas kepribadian pendidik di ruang kelas.

Ia juga menekankan bahwa Bakti Mulya 400 dikelola dengan standar korporasi. Profesionalisme tata kelola, ketertiban sistem, dan kemampuan membaca dinamika zaman menjadi fondasi sekolah dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berubah.

Namun di atas itu semua, kata Sutrisno, Bakti Mulya 400 menanamkan nilai kebangsaan. “Kami ingin melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga mencintai tanah air Indonesia.”

Momentum Menguatkan Niat dan Komitmen

Ketua Dewan Pengurus Yayasan, Ir. Hj. Anna Rosita Subagdja, melihat halal bihalal sebagai momentum strategis untuk menguatkan niat dan kebersamaan dalam mengemban amanah pendidikan.

“Ini bukan sekadar saling memaafkan. Ini tentang saling menguatkan—menguatkan niat, kebersamaan, dan komitmen,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa kemajuan Bakti Mulya 400 bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari kerja panjang, kerja hati, dan kerja bersama. Justru karena kemajuan itu, tanggung jawab yang diemban kini semakin besar.

Menurut Anna, Bakti Mulya 400 tidak lagi cukup hanya menjadi sekolah yang baik. Sekolah ini dituntut memberi dampak yang lebih luas. Yayasan, katanya, tengah bersiap melakukan ekspansi nilai—menghadirkan pendidikan khas Bakti Mulya 400 ke wilayah lain, menjangkau lebih banyak anak bangsa, dan menebarkan manfaat yang lebih luas.

Halal Bihalal: Kearifan Islam Indonesia yang Menenteramkan

Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Muhammad Faiz mengajak hadirin melihat halal bihalal dari sudut pandang yang lebih dalam. Tradisi ini, katanya, bukan berasal dari budaya Arab, melainkan kearifan khas Indonesia yang justru menunjukkan wajah Islam yang menenteramkan.

“Silaturahmi dan saling memaafkan adalah ajaran agama. Halal bihalal adalah instrumen budaya yang memfasilitasi ajaran itu,” jelasnya.

Ia mengingatkan pentingnya membedakan antara agama dan instrumen keagamaan. Ta’jil adalah ajaran agama, tetapi apakah berbuka dengan kurma atau kolak adalah instrumen yang bisa menyesuaikan budaya setempat. Demikian pula dengan pakaian dan ekspresi lahiriah keberagamaan.

“Kesalehan tidak diukur dari tampilan luar, tetapi dari upaya sungguh-sungguh membangun hubungan kemanusiaan,” ujarnya.

Baca juga : Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya

Ia menutup dengan pesan kuat: ibadah personal seperti salat, puasa, dan haji tidak cukup mengantarkan manusia menuju kebaikan bila hubungan antarmanusia tidak dibangun dengan saling memaafkan, saling menghormati, dan menjaga keseimbangan alam semesta.

Idul Fitri sebagai Awal Perubahan

Halal bihalal di Bakti Mulya 400 tahun ini menegaskan satu pesan utama: Idul Fitri bukan garis akhir Ramadan, melainkan garis awal perubahan. Perubahan kualitas diri, perubahan cara mengelola pendidikan, dan perubahan tanggung jawab sosial untuk bangsa.

Di tangan guru yang kompeten dan saleh, tata kelola yang profesional, serta nilai kebangsaan yang kokoh, Bakti Mulya 400 meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai ladang pembentuk peradaban.

Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya-1

Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya

Menjelang Maghrib pada Jumat, 13 Maret 2026, suasana di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP Bakti Mulya 400 perlahan dipenuhi para pimpinan sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta, Cibubur dan Depok dan tamu-tamu kehormatan. Di luar, matahari perlahan turun menuju ufuk barat. Itulah suasana Iftar Gathering Bakti Mulya 400 bertema “Fasting and Mental Wellbeing.”

Acara yang berlangsung pukul 16.00 hingga 18.30 WIB itu menghadirkan dua pembicara: Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si., CEO Bakti Mulya 400, dan Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, M.A., Guru Besar Antropologi Medis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya berbicara dari dua sudut pandang unik—kepemimpinan pendidikan dan kesehatan manusia—sekaligus mempertemukan satu makna: puasa adalah jalan pembentukan manusia yang utuh.

Sekolah yang Bertumbuh dari Semangat

Dalam sambutannya, Sutrisno Muslimin membuka pertemuan itu dengan kabar menggembirakan. Di tengah dinamika dunia pendidikan yang semakin kompetitif, Sekolah Bakti Mulya 400 justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Penerimaan siswa baru untuk tahun pelajaran 2026/2027 di seluruh unit—Jakarta, Cibubur, dan Depok—nampak akan terpenuhi dengan cepat. Jika tren ini terus berlanjut, jumlah siswa pada tahun ajaran mendatang diperkirakan akan mencapai sekitar 2000 siswa.

“Ini bukan sekadar angka,” kata Sutrisno. “Ini adalah hasil dari kerja kolektif seluruh guru yang bekerja dengan semangat, berpikir positif, dan memberikan kontribusi terbaik bagi sekolah.”

Namun bagi Sutrisno, pertumbuhan lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah siswa. Lebih penting adalah kualitas manusia yang membangunnya. Karena itu ia mengingatkan para pimpinan guru tentang tiga hal penting yang harus terus dijaga.

Pertama, membangun komunitas yang semakin dekat kepada Tuhan. Ramadan, menurutnya, adalah momentum untuk memperkuat spiritualitas. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter.

“Guru yang saleh akan membawa dampak pada kualitas kerjanya,” ujarnya.

Kedua, kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Dunia pendidikan hari ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi dan arus informasi global telah mengubah cara manusia belajar, berpikir, dan bekerja. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi cukup hanya mengandalkan metode lama atau pengetahuan yang diperoleh bertahun-tahun silam. Kemampuan beradaptasi bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi juga kemampuan membuka diri terhadap cara berpikir baru, metode pembelajaran baru, serta tantangan baru. Guru yang mampu beradaptasi akan tetap relevan di tengah perubahan, sementara guru yang berhenti belajar akan tertinggal oleh perkembangan zaman.

Ketiga, belajar tanpa henti. Pengetahuan, kata Sutrisno, memiliki masa kedaluwarsa. Apa yang dipelajari kemarin bisa jadi sudah tidak relevan hari ini.

“Apa yang kita pelajari di bangku kuliah dulu, hampir pasti membutuhkan pembaruan sekarang,” katanya.

Pesan itu sederhana, tetapi mendalam: guru yang terus belajar adalah fondasi bagi sekolah yang terus berkembang.

Ketika Lapar Menjadi Jalan Sehat

Pada sesi selanjutnya, Prof. Rusmin Tumanggor mulai menyampaikan tausiyahnya. Ia membuka ceramah dengan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang singkat namun penuh makna:

“Shūmū taṣiḥḥū.”
Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.

Hadis ini, menurut Rusmin, sering dikutip tetapi jarang direnungkan secara mendalam. Padahal kalimat sederhana itu membuka pemahaman luas tentang puasa sebagai sistem kesehatan manusia yang menyeluruh.

Puasa, katanya, bukan hanya ibadah ritual. Ia adalah latihan besar bagi manusia untuk menata tubuh, jiwa, masyarakat, dan spiritualitasnya.

Dari situlah muncul gagasan tentang empat jalan kesehatan dalam puasa: kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Tubuh yang Belajar Beristirahat

Dalam kehidupan modern, tubuh manusia jarang mendapatkan kesempatan untuk berhenti. Sistem pencernaan—lambung, usus, hati, dan ginjal—bekerja hampir sepanjang hari memproses makanan yang masuk tanpa jeda.

Puasa menghadirkan sesuatu yang langka: jeda biologis.

Sejak subuh hingga magrib, sistem pencernaan berhenti menerima asupan makanan. Lambung tidak bekerja sekeras biasanya. Usus tidak sibuk memproses nutrisi. Tubuh memasuki fase penyesuaian yang memberi kesempatan bagi organ-organ tersebut untuk memulihkan diri.

Rusmin mengibaratkannya seperti mesin pabrik. Mesin yang telah bekerja lama tidak bisa dipaksa terus beroperasi tanpa henti. Pada titik tertentu, mesin itu harus dimatikan untuk overhaul, perbaikan besar agar kembali optimal.

Begitulah tubuh manusia saat berpuasa.

Sel-sel tubuh mengalami proses peremajaan. Metabolisme yang semula tidak teratur mulai menata diri kembali. Bahkan bakteri dan virus yang biasanya berkembang dari pola makan berlebihan tidak mendapatkan kondisi ideal untuk berkembang.

“Tubuh manusia sebenarnya lebih kuat dan lebih bijaksana daripada yang kita bayangkan,” kata Rusmin.

Jiwa yang Belajar Menahan Diri

Namun puasa tidak berhenti pada tubuh. Ia juga memasuki wilayah yang jauh lebih kompleks: jiwa manusia.

Menurut Rusmin Tumanggor, kesehatan mental manusia ditopang oleh berbagai unsur: pikiran, emosi, naluri, motivasi, hingga kemampuan mengambil keputusan.

Puasa melatih semua unsur itu melalui satu kata kunci: pengendalian diri.

Orang yang berpuasa tidak hanya menahan lapar. Ia juga menahan amarah, menjaga kata-kata, dan mengendalikan dorongan emosional.

Di bulan Ramadan, manusia seolah diajak memperlambat hidupnya.

Lebih banyak membaca Al-Qur’an. Lebih banyak merenung. Lebih banyak bersabar.

Dalam proses itu, jiwa belajar menghadapi tekanan hidup—kecemasan, konflik batin, bahkan stres—dengan cara yang lebih tenang.

Puasa menjadi latihan psikologis tahunan yang membentuk ketahanan mental manusia.

Masyarakat yang Belajar Peduli

Dimensi berikutnya adalah kesehatan sosial.

Setiap Ramadan, pemandangan yang sama selalu muncul: orang-orang berkumpul di masjid untuk shalat tarawih, keluarga berbuka bersama, dan masyarakat berbagi makanan kepada yang membutuhkan.

Di situlah puasa memperbaiki hubungan manusia dengan sesamanya.

Ramadan menghadirkan berbagai mekanisme sosial yang memperkuat solidaritas: sedekah, zakat, dan kebiasaan saling memaafkan.

Baca juga : Ramadan di BM 400 Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman

Puasa juga mengingatkan manusia untuk menjaga kehalalan rezeki—menjauhi praktik yang merugikan orang lain seperti korupsi atau manipulasi.

Ketika nilai-nilai itu dijalankan bersama, masyarakat menjadi lebih hangat. Hubungan antarwarga tidak lagi sekadar formal, melainkan dipenuhi rasa saling peduli.

Jiwa yang Mendekat kepada Tuhan

Di balik semua dimensi itu, terdapat satu dimensi yang paling dalam: spiritualitas.

Spiritualitas adalah keadaan ketika manusia menemukan makna hidup melalui hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.

Puasa menjadi jalan menuju pengalaman tersebut.

Selama Ramadan, umat Islam memperbanyak ibadah: shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Aktivitas itu bukan sekadar ritual. Ia adalah sarana untuk menenangkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ketika seseorang membayar zakat atau bersedekah, ia juga merasakan kelegaan batin. Harta yang selama ini melekat pada dirinya berubah menjadi sarana berbagi.

Perasaan itu sederhana, tetapi dalam: rasa damai karena hidup terasa lebih bermakna.

Latihan Tahunan untuk Menjadi Manusia Utuh

Ketika azan magrib akhirnya berkumandang di auditorium, para peserta berbuka puasa bersama. Gelas air putih dan kurma menjadi penutup dari rangkaian diskusi tentang makna puasa yang lebih luas.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar ritual yang datang setahun sekali. Ia adalah latihan tahunan bagi manusia.

Puasa melatih tubuh untuk hidup lebih sehat. Melatih jiwa untuk lebih sabar. Melatih masyarakat untuk lebih peduli. Dan melatih manusia untuk kembali mengingat Tuhannya.

Setiap Ramadan memberi kesempatan baru bagi manusia untuk memperbaiki diri.

Pertanyaannya sederhana—tetapi tidak mudah dijawab: setelah Ramadan berlalu, apakah pelajaran itu masih akan bertahan?

Jika jawabannya ya, maka puasa bukan lagi sekadar ibadah musiman. Ia menjadi jalan pembentukan manusia seutuhnya—manusia yang sehat tubuhnya, matang jiwanya, hangat hubungannya dengan sesama, dan dekat dengan Tuhannya.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari sabda Nabi yang sederhana itu:Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.

Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman-1

Ramadan di BM 400: Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman

Cibubur — Suasana Ramadan terasa hangat di lingkungan Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur pada Jumat, 6 Maret 2026. Para pimpinan sekolah, kepala unit, guru, dan staf berkumpul dalam kegiatan Community Iftar Dinner di Infinity Hall. Acara ini bukan sekadar buka puasa bersama, melainkan juga ruang refleksi spiritual bagi civitas akademika sekolah.

Sejak pukul 15.30, para peserta mulai berdatangan. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Eka Fitriyanti, S.S. selaku pembawa acara. Selanjutnya pembacaan Al-Qur’an Juz 30 dan doa khatmil Qur’an yang dipimpin oleh Imron Nasihin, Lc. Pembacaan Al-Qur’an tersebut menjadi bagian dari tradisi yang telah dibangun di lingkungan Bakti Mulya 400 selama ini.

Chief Executive Officer Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si., dalam sambutannya menjelaskan bahwa pembacaan Al-Qur’an selama Ramadan merupakan upaya membudayakan khatam Al-Qur’an di kalangan guru dan karyawan.

“Empat tahun lalu kita mulai membangun tradisi membaca Al-Qur’an sampai tamat di bulan Ramadan. Saat itu capaian tertinggi di antara guru dan karyawan adalah khatam satu kali dalam bulan tersebut.  Namun sekarang di antara guru sudah ada yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an hingga sembilan kali dalam Ramadan,” ujar Sutrisno.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar aktivitas ritual. Ramadan, kata dia, harus menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sekaligus menjadi sarana pembentukan kepribadian spiritual para pendidik.

“Sebagai guru, kita tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual siswa, tetapi juga harus terus membina kedalaman spiritual kita sendiri. Ini sejalan dengan nilai dasar Bakti Mulya 400 yang menanamkan karakter religius,” kata Sutrisno.

Ia juga menyinggung perkembangan lembaga pendidikan Bakti Mulya 400 yang ada di Jakarta, Cibubur, dan Depok. Menurut dia, pertumbuhan semua unit tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang mengusung nilai religius, nasionalis, dan internasionalis.

“Nilai-nilai itu kini menjadi kebutuhan pendidikan masa kini. Karena itu kita harus terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat kompetensi profesional, dan mengembangkan kapasitas sebagai pendidik,” ujarnya.

Sutrisno menegaskan komitmennya untuk memimpin Bakti Mulya 400 menjadi sekolah besar yang tumbuh melalui kontribusi seluruh civitas akademika.

“Saya berkomitmen memimpin Bakti Mulya 400 menjadi sekolah besar yang dibesarkan oleh seluruh civitas akademikanya,” kata dia.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah Ramadan oleh Prof. Dr. Media Zainul Bahri, M.A., Guru Besar Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam ceramahnya, Media mengajak peserta merenungkan kembali makna iman dan Islam dalam perjalanan sejarah umat Muslim.

Ia memaparkan bahwa pada masa awal perkembangan Islam—yakni pada era Nabi Muhammad dan para sahabat—kata iman lebih dominan disebut dibandingkan kata Islam. Dalam kajian yang ia sampaikan, kata iman muncul sekitar 86 persen, sedangkan kata Islam sekitar 14 persen.

“Orang yang beriman diperintahkan untuk menjalankan nilai-nilai moral yang ditegaskan dalam Al-Qur’an,” ujar Media.

Ia kemudian menyebut beberapa contoh ajaran Al-Qur’an yang menekankan kualitas iman, seperti perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya (QS Ali Imran: 102), perintah berpuasa agar menjadi orang bertakwa (QS Al-Baqarah: 183), larangan memakan harta orang lain secara batil (QS An-Nisa: 29), hingga perintah menegakkan keadilan bahkan terhadap diri sendiri (QS An-Nisa: 135).

Namun, menurut Media, situasi mulai berubah ketika Islam menyebar luas ke berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Eropa sekitar abad ke-11 hingga ke-15. Pada masa itu, kata Islam mulai lebih sering digunakan daripada kata iman. Dalam periode tersebut, kata iman disebut sekitar 40 persen, sedangkan kata Islam mencapai 60 persen.

Baca juga : Ramadan sebagai Laboratorium Karakter di Sekolah Bakti Mulya 400

Perubahan itu semakin terlihat pada era modern, sejak sekitar abad ke-19 hingga sekarang. Dalam periode ini, kata iman hanya disebut sekitar 9 persen, sedangkan kata Islam mencapai 91 persen.

“Identitas Islam kemudian melekat pada banyak aspek kehidupan. Kita mengenal sekolah Islam, rumah sakit Islam, perumahan Islam, busana Muslim, bank Islam, bahkan negara Islam,” kata Media.

Menurut dia, fenomena tersebut berpotensi mendangkalkan makna iman jika tidak diimbangi dengan kualitas spiritual yang kuat.

“Tidak apa-apa menonjolkan identitas. Tapi kualitas iman jangan dilupakan. Iman adalah esensi dan substansi kualitas personal, sedangkan Islam adalah identitas, manifestasi, dan ekspresi personal,” ujarnya.

Media juga mengingatkan bahwa penyimpangan perilaku sering muncul ketika identitas agama tidak disertai kedalaman iman.

“Jangan sampai ada orang mengaku Islam tetapi melakukan kekerasan. Membunuh itu jelas diharamkan. Atau mengaku Islam tapi menyebarkan hoaks, padahal berbohong juga dilarang,” katanya.

Ia berpesan agar umat Islam tidak hanya merayakan identitas keislaman, tetapi juga memperkuat kualitas iman dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan membanggakan Islam kalau imannya rontok. Jangan sampai kita merayakan Islam, tetapi iman kita justru keok,” ujarnya.

Menurut Media, seorang Muslim yang benar-benar beriman akan tercermin dalam perilaku hidup yang bersih, disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki integritas.

Khusus kepada para guru, ia menegaskan pentingnya integritas spiritual dalam profesi pendidik.

“Kiat utama sebagai pendidik adalah memiliki integritas iman,” kata Media.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa yang dipimpin Abdullah Hanif, S.Pd. Para peserta menikmati ta’jil, melaksanakan salat Magrib berjamaah, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Di tengah suasana Ramadan, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga perjalanan membangun manusia yang beriman, berkarakter, dan berintegritas.

Pertahankan Kesucian Hati, Raih Kemenangan Sejati-7

Halalbihalal Sekolah BM 400: Pertahankan Kesucian Hati, Raih Kemenangan Sejati

Jakarta – Dalam suasana Idulfitri 1446 H, Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 bersama dengan Forum Komunikasi Orang Tua Murid (FKOM) menyelenggarakan halalbihalal di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP BM 400 pada Senin (14/04/25). Acara dihadiri oleh Ketua Pengurus Yayasan Bakti Mulya 400, Ir. Anna Rosita Subagdja beserta anggaota dewan pengurus. Hadir pula Ketua Pelaksana Harian, Dr. Sutrisno Muslimin dengan jajaran deputy, kepala divisi, manager, pimpinan seluruh unit, guru, dan karyawan Bakti Mulya 400 Jakarta dan Cibubur.

Selain itu juga dihadiri tamu-tamu kehormatan dari Yayasan Penerus Keluarga 400, Pengurus Masjid Raya Pondok Indah, Yayasan Pondok Mulya dan Yayasan Muslim Bumi Serpong Damai.

Acara dibuka dengan penampilan Pantalona Band SMA BM 400 berlanjut salawat menakjubkan oleh Freya Mikhayla siswa TK dan lantunan lagu religi Putu Naura, siswa SMA BM 400.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Al Qur’an oleh ustadz Ahmad Dasuki dengan sari tilawah Nova Citra Anggraeni. Selanjutnya lantunan doa dipimpin ustadz Muhammad Faris Ramadhan.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengurus YBKSP BM 400, Ibu Ir. Anna Rosita Subagdja menyampaikan bahwa Idulfitri adalah momen suci untuk kembali kepada fitrah, kembali kepada kejernihan nurani dan kesucian jiwa. Sedangkan halalbihalal adalah jembatan untuk mempererat silaturahmi, menyambung kembali benang-benang kebersamaan yang mungkin sempat terputus.

Lebih lanjut Ibu Ir. Anna Rosita Subagdja berharap:  “Dalam bingkai silaturahmi ini, mari kita saling membuka pintu maaf dan membangun kembali ruang hati yang lebih lapang — karena kita semua hadir dalam satu barisan perjuangan, satu cita-cita luhur: menghadirkan pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan penuh kasih”.

Dalam kesempatan tersebut Ketua Pelaksana Harian, Dr. Sutrisno Muslimin menyampaikan bahwa salah satu hikmah Ramadan adalah bulan untuk menempa umat Islam untuk menjadi orang yang hebat dengan derajat yang lebih tinggi.

Selain memberikan sambutan, Sutrisno Muslimin juga memberikan hadiah kepada para guru yang telah menghatamkan Al Qur’an selama Ramadan. Mereka yang mendapatkan pengargaan tersebut dari unit TK, hatam 3 kali (1 orang), hatam 2 kali (2 orang). Sementara dari unit SD, hatam 5 kali (2 orang), 4 kali (1 orang), 3 kali (3 orang). Sedangkan dari unit SMP, hatam 2 kali (3 orang) dan dari unit SMA, hatam 4 kali (1 orang) dan 3 kali (3 orang).

Pada acara inti halalbihalal tersebut juga tampil seorang da’i, presenter, dan aktor Indonesia, Muhammad Nur Maulana, atau yang dikenal lebih akrab Ustadz Maulana.

Pada bagian awal ceramahnya, ustadz Maulana menguraikan makna Syawal yang secara harfiah berarti meningkat. Karena itu diharapkan di bulan Syawal ini, umat muslim dapat meningkatkan kualitas ibadah seperti yang telah dijalankan pada bulan Ramadan.

Baca juga : Semarak Ramadan Sekolah BM 400 Cibubur diisi Health Talk dan Lomba Story Telling

Salah satu bagian inti ceramahnya, ustatadz Maulana menyampaikan untuk mempertahankan kesucian hati yang didapatkan selama bulan Ramadan ada lima amalan. Pertama, membaca Al Qur’an sebagai amalan yang menyertai shalat lima waktu. Kedua, salat malam yang dilakukan seperti bilangan salat tarawih, sehingga bisa berurutan mulai salat tasbih, tahajjud, hajat dan ditutup witir. Ketiga, perbanyak dzikir dengan membaca basmalah 100 kali, istigfar 100 kali, kalimat tauhid 100 kali, salawat 100 kali dan tasbih 100 kali. Keempat, puasa sunnah berupa 6 hari di bulan Syawal, puasa Senin dan Kamis, puasa Ayyamul Bidh (puasa tanggal 13, 14, dan 15 dalam kalender Hijriah), puasa Daud (berpuasa sehari dan berbuka sehari, atau secara bergantian) dan puasa Idris (berpuasa setiap hari sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa seperti Idul Fitri dan Idul Adha). Kelima, berkumpul dengan komunitas orang saleh, orang yang positif.

Selain ceramah keagamaan, acara halalbihalal juga diselingi dengan lantunan salawat dan lagu-lagu religi yang dibawakan oleh Dea Mirella, dikenal sebagai penyanyi dan mantan personel grup vokal Warna.

Pada akhir acara, seluruh peserta acara turut bersalaman satu sama lain dalam suasana penuh keikhlasan, sebagai wujud saling memaafkan di momen Idulfitri. Kehangatan dan nuansa kekeluargaan begitu kental terasa, mencerminkan eratnya tali silaturahmi dalam keluarga besar Sekolah Bakti Mulya 400.

Sekolah-Bakti-Mulya-400-melaksanakan-kegiatan-pemotongan-dan-pendistribusian-hewan-kurban-di-daerah-terpencil-2-1024x460

Idul Kurban Sekolah Bm 400 Di Daerah Terpencil

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1445 H, Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 melaksanakan kegiatan pemotongan dan pendistribusian hewan kurban di daerah terpencil pada Selasa, 18 Juni 2024. Kegiatan ini bertempat di Kampung Rumpin RT01/01 Desa Rumpin, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, dan dihadiri oleh seluruh pimpinan Sekolah BM 400 serta perwakilan siswa.

Panitia pelaksana yang terdiri dari Pengurus OSIS SMP dan SMA Bakti Mulya 400, serta civitas SDN 02 Rumpin, turut serta dalam mempersiapkan dan mendistribusikan daging kurban. Mereka bekerja sama dengan penuh semangat dan dedikasi untuk memastikan kelancaran acara ini.

Dalam sambutan pengantar, Kepala Divisi Pendidikan Sekolah Bakti Mulya 400, Hadi Suwarno, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan syariat dan meneladani tuntunan Nabi Ibrahim AS dalam berkurban. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat mengaktualisasikan makna berkurban dalam kehidupan nyata serta melatih kepekaan diri untuk beramal kepada lingkungan sekitar.

Pada tahun ini, Yayasan Bakti Mulya 400 menyumbangkan masing-amsing ekor sapi dan kambing sebagai hewan kurban. Di Kampung Rumpin, sapi kurban atas nama pramubakti yaitu Oman Hermansyah bin Mait, Soemardiyono bin Soelijan, Gunawan Kurnianzah bin H. Goni, Nedi Supriyadi bin Hotib, Ade Ardiansyah bin Mait, Sulaiman bin Sa.amin, dan Kurnia bin Ahdi Mahpudin. Sementara kambing kurban atas nama pegawai keamanan, Ngatimin bin Slamet Atmopawiro.

Di lokasi lainnya, yaitu di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Yayasan Bakti Mulya 400 juga menyumbangkan sapi kurban atas nama tenaga keamanan, Slamet Supriyadi bin Narsum, Basri bin Muhari, Syayudin bin Misran, Taslim bin Kamsirah, Cecep Supriyadi bin Soedarmo, Sadirin bin Martasenen, dan Dwi Mardian Nugroho bin Andreas Satiman. Sedangkan kambing kurban atas nama pegawai keamanan, Shodri bin Hamzah.

Pendistribusian daging kurban dilakukan dengan tertib agar dapat merata dan tepat sasaran. Sebanyak 200 warga Kampung Rumpin menerima daging kurban tersebut. Kegembiraan dan rasa syukur terpancar dari wajah para penerima, menunjukkan bahwa kegiatan ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi mereka.

Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi siswa-siswi Sekolah Bakti Mulya 400 tentang pentingnya nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi. Mereka tidak hanya belajar tentang proses kurban secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam pelaksanaannya.

Baca juga : Wisuda TK BM 400: A Sweet Ending to a New Beginning

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan hubungan antara sekolah dan masyarakat sekitar semakin erat, serta tercipta lingkungan yang harmonis dan saling mendukung. Sekolah Bakti Mulya 400 berkomitmen untuk terus berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan.

Kegiatan pemotongan dan pendistribusian kurban ini tidak hanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap syariat agama, tetapi juga sebagai wujud nyata dari pengamalan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam Islam.

Halalbihalal Sekolah BM 400: Eratkan Kebersamaan Wujudkan Kemenangan

Jakarta – Hari Idulfitri disemarakkan oleh Sekolah Bakti Mulya (BM) 400  dengan diadakannya halalbihalal bertema Eratkan Kebersamaan Wujudkan Kemenangan. Acara dilaksanakan di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP BM 400 pada Rabu (17/04/24).

Acara dihadiri oleh dewan pengurus, pengurus harian, pimpinan seluruh unit, guru, dan karyawan YBKSP BM 400. Acara dibuka dengan penampilan yang menakjubkan dari unit SMP, SD, dan TK. Mulai dari drama, musikalisasi puisi, hingga penampilan paduan suara bertemakan Idulfitri disajikan dengan sangat apik oleh perwakilan seluruh unit.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh Ustadz Ahmad Dasuki. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an tersebut berlangsung sangat khidmat dan diresapi oleh seluruh peserta acara.

Selanjutnya, Ketua Dewan Pengurus YBKSP BM 400, Ibu Ir. Anna Rosita Subagdja menyampaikan sambutan hangatnya terkait hari kemenangan yang baru saja diraih oleh umat muslim. “Idulfitri merupakan momen untuk bersukacita, bermaaf-maafan, juga merefleksikan perjalanan spiritual kita selama bulan suci Ramadhan.”

Ibu Anna juga menyampaikan semangat serta harapannya untuk sekolah BM 400. “Mari kita bersinergi dan bekerja sama demi masa depan sekolah kita, karena semangat dan kerja keras kita akan menjadi pilar utama dalam kemajuan dan prestasi sekolah kita tercinta. Semoga kasih sayang dan berkah Allah selalu menyertai langkah-langkah kita.”

Usai sambutan yang membakar semangat dari Ibu Anna, acara dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah dari Ustadz Haikal Hassan, S.T., M.T. Beliau menyampaikan ceramah tentang halalbihalal di Indonesia.

“Saya adalah penyuka sejarah. Separuh dari usia saya dipakai untuk mempelajari sejarah.  Tahun 1948, kita baru tiga tahun merdeka. Pada tahun tersebut, kita hampir terpecah belah lagi. Maka diadakanlah halalbihalal untuk menimbulkan semangat baru yang mendukung persatuan,” jelas Ustadz Haikal.

“Halalbihalal ini hanya ada di Indonesia, tidak ada di negara lain. Pun ucapan minal aidin wal faidzin juga berasal dari Indonesia. Hal ini menjadi kekayaan khazanah budaya bangsa yang harus terus kita jaga.”

Baca juga : Puncak Amal Ramadan Sekolah Bakti Mulya 400

Usai menjelaskan sejarah terciptanya halalbihalal, Ustadz Haikal turut menjelaskan betapa pentingnya silaturahmi yang terjalin saat halalbihalal.

“Nabi Muhammad bersabda, tidak ada perbuatan yang dibayar langsung kecuali silaturahmi. Jika Anda menghafal Al-Qur’an, Allah kelak akan menyiapkan berbagai tingkatan surga sesuai dengan seberapa banyak ayat Al-Qur’an yang Anda hafal. Sementara itu, silaturahmi langsung dibayar tunai dengan ditambahkannya umur dan rezeki. Itulah betapa pentingnya silaturahmi yang kita jalin,” jelas Ustadz Haikal.

Ustadz Haikal mengakhiri ceramah dengan menekankan ajakannya, “Dengan halalbihalal dan silaturahmi, mari kita bangun Indonesia dalam persatuan, kesatuan, dan kedamaian.”

Acara dilanjutkan dengan penampilan dari unit SMA, kemudian disusul dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ustadz Hasan. Guna mempererat kekeluargaan, seluruh peserta acara pun bersalam-salaman untuk saling bermaaf-maafan. Kehangatan dan kekeluargaan sangat kental terasa dalam acara halalbihalal sekolah BM 400 ini.

Sekolah BM 400 Semarakkan Idul Kurban di Perkampungan Bogor

Untuk memeratakan daging kurban sampai ke pelosok wilayah perkampungan, Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 melaksanakan kegiatan kurban di Kp. Cilambur, Desa Leuwi Batu, Kec. Rumpin, Kabupaten Bogor pada hari Jumat (30/6/23).

Kegiatan perayaan Hari Raya Idul Adha 1444 H dilakukan oleh Sekolah BM 400 bekerjasama dengan Pondok Pesantren Riyadul Alfiah yang terdapat di desa tersebut.

Hewan kurban yang berjumlah dua ekor sapi dan 10 ekor kambing merupakan hasil dari tabungan siswa sebelum Idul Adha 1444 H.

Hadir pada kesempatan tersebut Deputy Ketua Pelaksana Harian Sekolah BM 400, Euis Tresna, M.Si. Manager Kesiswaan dan Agama Islam, Diana, S.Pd., Manager Boarding School, Yoyok Sugiarto, M.Pd., guru-guru Agama Islam dan siswa perwakilan dari SMP dan SMA Bakti Mulya 400.

Dalam sambutannya, Euis Tresna menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk menanamkan pendidikan kepada peserta didik sekolah Bakti Mulya 400 agar memiliki empati, berbagi sekaligus bergotong royong.

“Kegiatan berkuran merupakan cara berbagi yang disyariatkan Agama Islam, karena itu semua siswa hendaknya mampu mendistribusikan empati dan kepedulian kepada masyarakat yang lebih luas, untuk tahun ini kita langsungkan di tempat ini. Boleh jadi pada masa mendatang kita langsungkan di tempat-tempat lain yang memerlukan”, tandas Euis Tresna.

Kegiatan berlangsung lancar dimulai pukul 07.00 sampai pukul 11.30 WIB. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Maira kelas kelas XI-SKS dan Hans kelas X-4 Cambridge. Selanjutnya acara sambutan atas nama tuan rumah dari pimpinan ponpes Riyadul Alfiah dilanjutkan penyerahan secara simbolis hewan qurban oleh Yoyok Sugiarto, M.Pd.

Baca juga : Sekolah BM 400 Merancang Pembelajaran Kolaboratif

Selanjutnya, pemotongan hewan qurban disaksikan seluruh santri, seluruh siswa sekolah Bakti Mulya 400, dan masyarakat. Semua kepala RT dan RW Rumpin Bogor juga hadir dalam kegiatan ini.

Acara berlangsung dengan lancar ditandai dengan pembagian daging kurban kepada masyarakat sekitar.

MENGINTIP TRADISI BERPUASA DI ITALIA DAN TURKI BERSAMA SEKOLAH BAKTI MULYA 400

Aisyah Sofia Bravi, Mahasiswa S1 University of Bologna, Italia.

JAKARTA – Puasa merupakan ibadah wajib di bulan Ramadan yang dijalankan oleh umat muslim di seluruh dunia. Setiap negara tentunya mempunyai cara dan tradisi yang berbeda-beda dalam menjalankan ibadah puasa, tak terkecuali di negara Italia dan Turki.

Kali ini, Sekolah Bakti Mulya 400 (BM 400) mengadakan web seminar (webinar) dengan tema Mengintip Tradisi Berpuasa di Italia dan Turki pada (19/4).

Drs Ajibandi, manager Bidang Kesiswaan Sekolah BM 400.

Drs Ajibadi selaku manager Sekolah BM 400 mengungkapkan bahwa webinar kali ini merupakan kegiatan kolaborasi antar unit Sekolah BM 400 mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) serta siswa-siswi perwakilan Rohani Islam (Rohis) se-Jakarta Selatan.

“Hari ini kita coba memadukan dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an, bagaimana kegiatan dan tradisi keagamaan khususnya ibadah puasa di negara Italia dan Turki,” ungkap Drs. Ajibandi.

“Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari kegiatan ini sehingga semakin kuat keimanan kita dalam menjalankan ibadah puasa,” sambungnya.

Dalam webinar ini, Sekolah BM 400 mengundang dua narasumber yaitu, Aisyah Sofia Bravi, mahasiswa S1 jurusan Fashion Cultures & Techniques di University of Bologna, Italia dan Nandang Hendrawan, pengurus International Fraternity Association (IFA) Derneği, Turki.

Sebagai narasumber pertama, Aisyah mengatakan jika durasi berpuasa di negara Italia bisa berbeda tiap tahunnya tergantung musim dan zona waktu. Dia menjelaskan durasi waktu berpuasa di musim panas bisa lebih lama dibandingkan di musim dingin.

“Di Italia, lama waktu berpuasa berganti tiap tahunnya tergantung musim dan zona-nya,’ ungkap Aisyah.

“Di musim panas, berpuasa bisa 18 sampai 19 jam. Kalau musim dingin, maksimal 12 jam karena waktu (siang) nya lebih pendek” sambungnya.

Selain itu, Aisyah yang juga memiliki darah Indonesia menjelaskan menu-menu apa saja yang biasa dirinya konsumsi ketika bersantap sahur dan berbuka puasa.

“Kita sahurnya seperti mau sarapan, jadi banyak minum air hangat atau teh hangat dan juga sereal, biskuit, roti, serta cokelat,” kata Aisyah.

“Kalau untuk buka puasa, menu buka puasanya dari makanan Italia atau Indonesia seperti daging dan sayur,” tuturnya.

Nandang Hendrawan, Pengurus International Fraternity Association (IFA) Derneği, Turki

Dilanjutkan narasumber kedua, Nandang yang merupakan pengurus IFA Derneği menjelaskan beberapa kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Turki sebelum memasuki bulan Ramadan seperti membersihkan rumah, masjid, serta makam para sahabat Rasulullah SAW.

“Kebanyakan muslim di Turki sebelum memasuki bulan Ramadan menyiapkan dan membersihkan tempat-tempat yang ada di rumahnya juga masjid-masjid serta kuburan para sahabat Rasulullah,” ungkap Nandang.

Dia melanjutkan, masyarakat Turki juga terbiasa menyiapkan manisan sebelum memasuki bulan Ramadan karena proses pembuatan manisan yang terbilang sulit dan membutuhkan waktu yang lama.

Baca juga : CEO TALK BM 400 DIBUKA WAGUB DKI JAKARTA, UNDANG TOKOH SUKSES DALAM BISNIS DAN POLITIK

“Mereka menyiapkan manisan seperti Baklava sebelum memasuki bulan Ramadan agar ibadah puasa mereka tidak terganggu,” jelasnya.

Kemudian, dirinya juga turut menceritakan satu tradisi unik di Turki untuk membangunkan orang-orang pada saat sahur yang disebut Davul.

“Jam 2 dan 3 (pagi), mereka ada Davul yaitu membangunkan orang-orang untuk bersantap sahur menggunakan drum,” tuturnya.

Sebagai penutup, Ustaz Pangeran Arsyad Ihsanul Haq memaparkan rangkuman dari materi yang dibawakan oleh kedua narasumber pada acara webinar kali ini.

Dirinya juga berpesan kepada siswa-siswi sekolah BM 400 untuk tetap melaksanakan ibadah di bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. “Tetap semangat, tetap melaksanakan ibadah semampunya dan sesungguh-sungguhnya karena pahala di Ramadan itu besar dan tidak seperti di bulan-bulan lain,” kata Ustaz Pangeran.