Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan

Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan

Yayasan BKSP Bakti Mulya 400 menggelar Halal Bihalal keluarga besar sekolah pada Senin pagi, 30 Maret 2026, di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP Bakti Mulya 400 Jakarta. Mengusung tema “Idul Fitri Bukan Penutup Ramadan, Tetapi Awal Perubahan”, acara ini menjadi lebih dari sekadar tradisi saling memaafkan. Ia menjelma sebagai ruang refleksi kolektif tentang arah pendidikan, kualitas manusia, dan tanggung jawab kebangsaan yang dipikul lembaga pendidikan.

Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran pengurus yayasan, pimpinan sekolah, guru, karyawan, serta menghadirkan penceramah utama Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Ketua Umum MUI DKI Jakarta periode 2023–2028 sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman.

Pendidikan yang Baik Lahir dari Proses yang Dikelola Guru Berkualitas

Dalam sambutannya, CEO Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, menegaskan satu hal mendasar: capaian pendidikan yang baik tidak ditentukan oleh kualitas input siswa semata, melainkan oleh kualitas proses pendidikan yang dikelola para guru.

“Sekolah yang hebat bukan sekolah yang hanya menerima siswa-siswa terpilih. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu mengelola proses pendidikan secara unggul melalui guru-guru yang kompeten dan saleh,” ujarnya.

Kesalehan itu, menurutnya, bukan konsep abstrak. Ramadan menjadi tolok ukur yang konkret. Ia menyebut, tahun ini terdapat delapan guru Bakti Mulya 400 yang berhasil menghatamkan Al-Qur’an hingga sepuluh kali selama Ramadan—sebuah indikator disiplin ruhani yang diyakini berbanding lurus dengan kualitas kepribadian pendidik di ruang kelas.

Ia juga menekankan bahwa Bakti Mulya 400 dikelola dengan standar korporasi. Profesionalisme tata kelola, ketertiban sistem, dan kemampuan membaca dinamika zaman menjadi fondasi sekolah dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berubah.

Namun di atas itu semua, kata Sutrisno, Bakti Mulya 400 menanamkan nilai kebangsaan. “Kami ingin melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga mencintai tanah air Indonesia.”

Momentum Menguatkan Niat dan Komitmen

Ketua Dewan Pengurus Yayasan, Ir. Hj. Anna Rosita Subagdja, melihat halal bihalal sebagai momentum strategis untuk menguatkan niat dan kebersamaan dalam mengemban amanah pendidikan.

“Ini bukan sekadar saling memaafkan. Ini tentang saling menguatkan—menguatkan niat, kebersamaan, dan komitmen,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa kemajuan Bakti Mulya 400 bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari kerja panjang, kerja hati, dan kerja bersama. Justru karena kemajuan itu, tanggung jawab yang diemban kini semakin besar.

Menurut Anna, Bakti Mulya 400 tidak lagi cukup hanya menjadi sekolah yang baik. Sekolah ini dituntut memberi dampak yang lebih luas. Yayasan, katanya, tengah bersiap melakukan ekspansi nilai—menghadirkan pendidikan khas Bakti Mulya 400 ke wilayah lain, menjangkau lebih banyak anak bangsa, dan menebarkan manfaat yang lebih luas.

Halal Bihalal: Kearifan Islam Indonesia yang Menenteramkan

Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Muhammad Faiz mengajak hadirin melihat halal bihalal dari sudut pandang yang lebih dalam. Tradisi ini, katanya, bukan berasal dari budaya Arab, melainkan kearifan khas Indonesia yang justru menunjukkan wajah Islam yang menenteramkan.

“Silaturahmi dan saling memaafkan adalah ajaran agama. Halal bihalal adalah instrumen budaya yang memfasilitasi ajaran itu,” jelasnya.

Ia mengingatkan pentingnya membedakan antara agama dan instrumen keagamaan. Ta’jil adalah ajaran agama, tetapi apakah berbuka dengan kurma atau kolak adalah instrumen yang bisa menyesuaikan budaya setempat. Demikian pula dengan pakaian dan ekspresi lahiriah keberagamaan.

“Kesalehan tidak diukur dari tampilan luar, tetapi dari upaya sungguh-sungguh membangun hubungan kemanusiaan,” ujarnya.

Baca juga : Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya

Ia menutup dengan pesan kuat: ibadah personal seperti salat, puasa, dan haji tidak cukup mengantarkan manusia menuju kebaikan bila hubungan antarmanusia tidak dibangun dengan saling memaafkan, saling menghormati, dan menjaga keseimbangan alam semesta.

Idul Fitri sebagai Awal Perubahan

Halal bihalal di Bakti Mulya 400 tahun ini menegaskan satu pesan utama: Idul Fitri bukan garis akhir Ramadan, melainkan garis awal perubahan. Perubahan kualitas diri, perubahan cara mengelola pendidikan, dan perubahan tanggung jawab sosial untuk bangsa.

Di tangan guru yang kompeten dan saleh, tata kelola yang profesional, serta nilai kebangsaan yang kokoh, Bakti Mulya 400 meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai ladang pembentuk peradaban.

Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya-1

Puasa dan Jalan Pembentukan Manusia Seutuhnya

Menjelang Maghrib pada Jumat, 13 Maret 2026, suasana di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP Bakti Mulya 400 perlahan dipenuhi para pimpinan sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta, Cibubur dan Depok dan tamu-tamu kehormatan. Di luar, matahari perlahan turun menuju ufuk barat. Itulah suasana Iftar Gathering Bakti Mulya 400 bertema “Fasting and Mental Wellbeing.”

Acara yang berlangsung pukul 16.00 hingga 18.30 WIB itu menghadirkan dua pembicara: Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si., CEO Bakti Mulya 400, dan Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, M.A., Guru Besar Antropologi Medis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya berbicara dari dua sudut pandang unik—kepemimpinan pendidikan dan kesehatan manusia—sekaligus mempertemukan satu makna: puasa adalah jalan pembentukan manusia yang utuh.

Sekolah yang Bertumbuh dari Semangat

Dalam sambutannya, Sutrisno Muslimin membuka pertemuan itu dengan kabar menggembirakan. Di tengah dinamika dunia pendidikan yang semakin kompetitif, Sekolah Bakti Mulya 400 justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Penerimaan siswa baru untuk tahun pelajaran 2026/2027 di seluruh unit—Jakarta, Cibubur, dan Depok—nampak akan terpenuhi dengan cepat. Jika tren ini terus berlanjut, jumlah siswa pada tahun ajaran mendatang diperkirakan akan mencapai sekitar 2000 siswa.

“Ini bukan sekadar angka,” kata Sutrisno. “Ini adalah hasil dari kerja kolektif seluruh guru yang bekerja dengan semangat, berpikir positif, dan memberikan kontribusi terbaik bagi sekolah.”

Namun bagi Sutrisno, pertumbuhan lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah siswa. Lebih penting adalah kualitas manusia yang membangunnya. Karena itu ia mengingatkan para pimpinan guru tentang tiga hal penting yang harus terus dijaga.

Pertama, membangun komunitas yang semakin dekat kepada Tuhan. Ramadan, menurutnya, adalah momentum untuk memperkuat spiritualitas. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter.

“Guru yang saleh akan membawa dampak pada kualitas kerjanya,” ujarnya.

Kedua, kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Dunia pendidikan hari ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi dan arus informasi global telah mengubah cara manusia belajar, berpikir, dan bekerja. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi cukup hanya mengandalkan metode lama atau pengetahuan yang diperoleh bertahun-tahun silam. Kemampuan beradaptasi bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi juga kemampuan membuka diri terhadap cara berpikir baru, metode pembelajaran baru, serta tantangan baru. Guru yang mampu beradaptasi akan tetap relevan di tengah perubahan, sementara guru yang berhenti belajar akan tertinggal oleh perkembangan zaman.

Ketiga, belajar tanpa henti. Pengetahuan, kata Sutrisno, memiliki masa kedaluwarsa. Apa yang dipelajari kemarin bisa jadi sudah tidak relevan hari ini.

“Apa yang kita pelajari di bangku kuliah dulu, hampir pasti membutuhkan pembaruan sekarang,” katanya.

Pesan itu sederhana, tetapi mendalam: guru yang terus belajar adalah fondasi bagi sekolah yang terus berkembang.

Ketika Lapar Menjadi Jalan Sehat

Pada sesi selanjutnya, Prof. Rusmin Tumanggor mulai menyampaikan tausiyahnya. Ia membuka ceramah dengan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang singkat namun penuh makna:

“Shūmū taṣiḥḥū.”
Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.

Hadis ini, menurut Rusmin, sering dikutip tetapi jarang direnungkan secara mendalam. Padahal kalimat sederhana itu membuka pemahaman luas tentang puasa sebagai sistem kesehatan manusia yang menyeluruh.

Puasa, katanya, bukan hanya ibadah ritual. Ia adalah latihan besar bagi manusia untuk menata tubuh, jiwa, masyarakat, dan spiritualitasnya.

Dari situlah muncul gagasan tentang empat jalan kesehatan dalam puasa: kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Tubuh yang Belajar Beristirahat

Dalam kehidupan modern, tubuh manusia jarang mendapatkan kesempatan untuk berhenti. Sistem pencernaan—lambung, usus, hati, dan ginjal—bekerja hampir sepanjang hari memproses makanan yang masuk tanpa jeda.

Puasa menghadirkan sesuatu yang langka: jeda biologis.

Sejak subuh hingga magrib, sistem pencernaan berhenti menerima asupan makanan. Lambung tidak bekerja sekeras biasanya. Usus tidak sibuk memproses nutrisi. Tubuh memasuki fase penyesuaian yang memberi kesempatan bagi organ-organ tersebut untuk memulihkan diri.

Rusmin mengibaratkannya seperti mesin pabrik. Mesin yang telah bekerja lama tidak bisa dipaksa terus beroperasi tanpa henti. Pada titik tertentu, mesin itu harus dimatikan untuk overhaul, perbaikan besar agar kembali optimal.

Begitulah tubuh manusia saat berpuasa.

Sel-sel tubuh mengalami proses peremajaan. Metabolisme yang semula tidak teratur mulai menata diri kembali. Bahkan bakteri dan virus yang biasanya berkembang dari pola makan berlebihan tidak mendapatkan kondisi ideal untuk berkembang.

“Tubuh manusia sebenarnya lebih kuat dan lebih bijaksana daripada yang kita bayangkan,” kata Rusmin.

Jiwa yang Belajar Menahan Diri

Namun puasa tidak berhenti pada tubuh. Ia juga memasuki wilayah yang jauh lebih kompleks: jiwa manusia.

Menurut Rusmin Tumanggor, kesehatan mental manusia ditopang oleh berbagai unsur: pikiran, emosi, naluri, motivasi, hingga kemampuan mengambil keputusan.

Puasa melatih semua unsur itu melalui satu kata kunci: pengendalian diri.

Orang yang berpuasa tidak hanya menahan lapar. Ia juga menahan amarah, menjaga kata-kata, dan mengendalikan dorongan emosional.

Di bulan Ramadan, manusia seolah diajak memperlambat hidupnya.

Lebih banyak membaca Al-Qur’an. Lebih banyak merenung. Lebih banyak bersabar.

Dalam proses itu, jiwa belajar menghadapi tekanan hidup—kecemasan, konflik batin, bahkan stres—dengan cara yang lebih tenang.

Puasa menjadi latihan psikologis tahunan yang membentuk ketahanan mental manusia.

Masyarakat yang Belajar Peduli

Dimensi berikutnya adalah kesehatan sosial.

Setiap Ramadan, pemandangan yang sama selalu muncul: orang-orang berkumpul di masjid untuk shalat tarawih, keluarga berbuka bersama, dan masyarakat berbagi makanan kepada yang membutuhkan.

Di situlah puasa memperbaiki hubungan manusia dengan sesamanya.

Ramadan menghadirkan berbagai mekanisme sosial yang memperkuat solidaritas: sedekah, zakat, dan kebiasaan saling memaafkan.

Baca juga : Ramadan di BM 400 Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman

Puasa juga mengingatkan manusia untuk menjaga kehalalan rezeki—menjauhi praktik yang merugikan orang lain seperti korupsi atau manipulasi.

Ketika nilai-nilai itu dijalankan bersama, masyarakat menjadi lebih hangat. Hubungan antarwarga tidak lagi sekadar formal, melainkan dipenuhi rasa saling peduli.

Jiwa yang Mendekat kepada Tuhan

Di balik semua dimensi itu, terdapat satu dimensi yang paling dalam: spiritualitas.

Spiritualitas adalah keadaan ketika manusia menemukan makna hidup melalui hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.

Puasa menjadi jalan menuju pengalaman tersebut.

Selama Ramadan, umat Islam memperbanyak ibadah: shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Aktivitas itu bukan sekadar ritual. Ia adalah sarana untuk menenangkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ketika seseorang membayar zakat atau bersedekah, ia juga merasakan kelegaan batin. Harta yang selama ini melekat pada dirinya berubah menjadi sarana berbagi.

Perasaan itu sederhana, tetapi dalam: rasa damai karena hidup terasa lebih bermakna.

Latihan Tahunan untuk Menjadi Manusia Utuh

Ketika azan magrib akhirnya berkumandang di auditorium, para peserta berbuka puasa bersama. Gelas air putih dan kurma menjadi penutup dari rangkaian diskusi tentang makna puasa yang lebih luas.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar ritual yang datang setahun sekali. Ia adalah latihan tahunan bagi manusia.

Puasa melatih tubuh untuk hidup lebih sehat. Melatih jiwa untuk lebih sabar. Melatih masyarakat untuk lebih peduli. Dan melatih manusia untuk kembali mengingat Tuhannya.

Setiap Ramadan memberi kesempatan baru bagi manusia untuk memperbaiki diri.

Pertanyaannya sederhana—tetapi tidak mudah dijawab: setelah Ramadan berlalu, apakah pelajaran itu masih akan bertahan?

Jika jawabannya ya, maka puasa bukan lagi sekadar ibadah musiman. Ia menjadi jalan pembentukan manusia seutuhnya—manusia yang sehat tubuhnya, matang jiwanya, hangat hubungannya dengan sesama, dan dekat dengan Tuhannya.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari sabda Nabi yang sederhana itu:Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.

Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman-1

Ramadan di BM 400: Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman

Cibubur — Suasana Ramadan terasa hangat di lingkungan Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur pada Jumat, 6 Maret 2026. Para pimpinan sekolah, kepala unit, guru, dan staf berkumpul dalam kegiatan Community Iftar Dinner di Infinity Hall. Acara ini bukan sekadar buka puasa bersama, melainkan juga ruang refleksi spiritual bagi civitas akademika sekolah.

Sejak pukul 15.30, para peserta mulai berdatangan. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Eka Fitriyanti, S.S. selaku pembawa acara. Selanjutnya pembacaan Al-Qur’an Juz 30 dan doa khatmil Qur’an yang dipimpin oleh Imron Nasihin, Lc. Pembacaan Al-Qur’an tersebut menjadi bagian dari tradisi yang telah dibangun di lingkungan Bakti Mulya 400 selama ini.

Chief Executive Officer Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si., dalam sambutannya menjelaskan bahwa pembacaan Al-Qur’an selama Ramadan merupakan upaya membudayakan khatam Al-Qur’an di kalangan guru dan karyawan.

“Empat tahun lalu kita mulai membangun tradisi membaca Al-Qur’an sampai tamat di bulan Ramadan. Saat itu capaian tertinggi di antara guru dan karyawan adalah khatam satu kali dalam bulan tersebut.  Namun sekarang di antara guru sudah ada yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an hingga sembilan kali dalam Ramadan,” ujar Sutrisno.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar aktivitas ritual. Ramadan, kata dia, harus menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sekaligus menjadi sarana pembentukan kepribadian spiritual para pendidik.

“Sebagai guru, kita tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual siswa, tetapi juga harus terus membina kedalaman spiritual kita sendiri. Ini sejalan dengan nilai dasar Bakti Mulya 400 yang menanamkan karakter religius,” kata Sutrisno.

Ia juga menyinggung perkembangan lembaga pendidikan Bakti Mulya 400 yang ada di Jakarta, Cibubur, dan Depok. Menurut dia, pertumbuhan semua unit tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang mengusung nilai religius, nasionalis, dan internasionalis.

“Nilai-nilai itu kini menjadi kebutuhan pendidikan masa kini. Karena itu kita harus terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat kompetensi profesional, dan mengembangkan kapasitas sebagai pendidik,” ujarnya.

Sutrisno menegaskan komitmennya untuk memimpin Bakti Mulya 400 menjadi sekolah besar yang tumbuh melalui kontribusi seluruh civitas akademika.

“Saya berkomitmen memimpin Bakti Mulya 400 menjadi sekolah besar yang dibesarkan oleh seluruh civitas akademikanya,” kata dia.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah Ramadan oleh Prof. Dr. Media Zainul Bahri, M.A., Guru Besar Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam ceramahnya, Media mengajak peserta merenungkan kembali makna iman dan Islam dalam perjalanan sejarah umat Muslim.

Ia memaparkan bahwa pada masa awal perkembangan Islam—yakni pada era Nabi Muhammad dan para sahabat—kata iman lebih dominan disebut dibandingkan kata Islam. Dalam kajian yang ia sampaikan, kata iman muncul sekitar 86 persen, sedangkan kata Islam sekitar 14 persen.

“Orang yang beriman diperintahkan untuk menjalankan nilai-nilai moral yang ditegaskan dalam Al-Qur’an,” ujar Media.

Ia kemudian menyebut beberapa contoh ajaran Al-Qur’an yang menekankan kualitas iman, seperti perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya (QS Ali Imran: 102), perintah berpuasa agar menjadi orang bertakwa (QS Al-Baqarah: 183), larangan memakan harta orang lain secara batil (QS An-Nisa: 29), hingga perintah menegakkan keadilan bahkan terhadap diri sendiri (QS An-Nisa: 135).

Namun, menurut Media, situasi mulai berubah ketika Islam menyebar luas ke berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Eropa sekitar abad ke-11 hingga ke-15. Pada masa itu, kata Islam mulai lebih sering digunakan daripada kata iman. Dalam periode tersebut, kata iman disebut sekitar 40 persen, sedangkan kata Islam mencapai 60 persen.

Baca juga : Ramadan sebagai Laboratorium Karakter di Sekolah Bakti Mulya 400

Perubahan itu semakin terlihat pada era modern, sejak sekitar abad ke-19 hingga sekarang. Dalam periode ini, kata iman hanya disebut sekitar 9 persen, sedangkan kata Islam mencapai 91 persen.

“Identitas Islam kemudian melekat pada banyak aspek kehidupan. Kita mengenal sekolah Islam, rumah sakit Islam, perumahan Islam, busana Muslim, bank Islam, bahkan negara Islam,” kata Media.

Menurut dia, fenomena tersebut berpotensi mendangkalkan makna iman jika tidak diimbangi dengan kualitas spiritual yang kuat.

“Tidak apa-apa menonjolkan identitas. Tapi kualitas iman jangan dilupakan. Iman adalah esensi dan substansi kualitas personal, sedangkan Islam adalah identitas, manifestasi, dan ekspresi personal,” ujarnya.

Media juga mengingatkan bahwa penyimpangan perilaku sering muncul ketika identitas agama tidak disertai kedalaman iman.

“Jangan sampai ada orang mengaku Islam tetapi melakukan kekerasan. Membunuh itu jelas diharamkan. Atau mengaku Islam tapi menyebarkan hoaks, padahal berbohong juga dilarang,” katanya.

Ia berpesan agar umat Islam tidak hanya merayakan identitas keislaman, tetapi juga memperkuat kualitas iman dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan membanggakan Islam kalau imannya rontok. Jangan sampai kita merayakan Islam, tetapi iman kita justru keok,” ujarnya.

Menurut Media, seorang Muslim yang benar-benar beriman akan tercermin dalam perilaku hidup yang bersih, disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki integritas.

Khusus kepada para guru, ia menegaskan pentingnya integritas spiritual dalam profesi pendidik.

“Kiat utama sebagai pendidik adalah memiliki integritas iman,” kata Media.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa yang dipimpin Abdullah Hanif, S.Pd. Para peserta menikmati ta’jil, melaksanakan salat Magrib berjamaah, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Di tengah suasana Ramadan, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga perjalanan membangun manusia yang beriman, berkarakter, dan berintegritas.

Ramadan sebagai Laboratorium Karakter di Sekolah Bakti Mulya 400-1

Ramadan sebagai Laboratorium Karakter di Sekolah Bakti Mulya 400

Jakarta–Cibubur — Bulan suci Ramadan dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan di lingkungan Sekolah Bakti Mulya (BM) 400, baik di unit BM 400 Jakarta maupun BM 400 Cibubur. Melalui rangkaian program edukatif dan spiritual yang terintegrasi lintas jenjang pendidikan, sekolah ini menjadikan Ramadan sebagai ruang pembelajaran karakter, refleksi moral, sekaligus penguatan nilai kemanusiaan bagi seluruh warga sekolah.

Rangkaian kegiatan berlangsung sejak 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Program dirancang sebagai ekosistem pembelajaran yang melibatkan siswa, guru, pimpinan sekolah, hingga masyarakat sekitar. Kegiatan mencakup kajian keislaman, tilawah Al-Qur’an, aksi sosial, serta festival Ramadan yang menekankan nilai kolaborasi dan kepedulian sosial.

Menurut Sofiandi, Lc., M.Pd., Ph.D., Islamic Program Department Head Sekolah Bakti Mulya 400, Ramadan seharusnya menjadi momentum transformasi pendidikan, bukan sekadar penguatan aktivitas ibadah rutin.

“Pendidikan Islam di sekolah modern tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan religius. Ia harus mampu membentuk kesadaran moral dan integritas pribadi peserta didik,” ujar Sofiandi dalam salah satu sesi kajian Ramadan.

Ia menambahkan, Ramadan merupakan ruang pembelajaran yang konkret bagi pembentukan karakter siswa. “Ramadan adalah laboratorium karakter. Di sinilah siswa belajar disiplin, empati, dan kesadaran spiritual secara nyata, bukan sekadar konsep di ruang kelas.”

Ini juga diamini oleh Deputi KPH Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur/ Academic Development, Hadi Suwarno, M.Pd, bahwa ini semua upaya menerjemahkan makna hakiki dari imaanan wah tisaaban  (إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا) yakni berpuasa dan beramal dengan penuh keimanan dengan mengharapkan pahala hanya dari Allah SWT selama bulan Ramadhan sehingga seluruh peserta didik memiliki kesadaran transenden di dalam melaksanakan ibadah tahunan ini.

Pendidikan Spiritual yang Terstruktur

Program Ramadan di Sekolah Bakti Mulya 400 disusun secara sistematis dan berjenjang sesuai karakteristik peserta didik.

Di tingkat sekolah dasar, pendekatan pembelajaran dilakukan melalui kegiatan aplikatif dan menyenangkan, seperti Tarhib Ramadan dan Mabit Ramadan yang bertujuan membangun kebiasaan ibadah sejak dini. Beragam aktivitas turut memeriahkan program ini, antara lain lomba cerdas cermat, lomba adzan, Islamic storytelling, lomba da’i cilik, literasi agama, pembuatan kartu ucapan Ramadan, keterampilan religi seperti tasbih dan qalam, kaligrafi, pertunjukan seni, pemutaran film Islami, zakat fitrah, santunan anak yatim, hingga khatmul Qur’an.

Pada jenjang SMP, kegiatan One Day One Juz menjadi agenda harian yang melibatkan guru dan siswa dalam tilawah Al-Qur’an secara kolektif. Kajian tematik juga digelar setiap hari dengan tema yang relevan dengan dunia pendidikan, mulai dari keikhlasan sebagai ruh pendidikan hingga etika sosial dalam lingkungan sekolah.

Sementara itu, siswa SMA menjalankan program tahsin Al-Qur’an rutin, kegiatan sosial berupa pembagian takjil kepada masyarakat, serta santunan anak yatim sebagai bagian dari pembelajaran empati sosial.

Penguatan Spiritual bagi Guru dan Karyawan

Tidak hanya siswa, guru dan karyawan juga menjadi bagian dari proses pembelajaran Ramadan. Sekolah menggelar pelatihan An-Naghom fil Qur’an—seni tilawah Al-Qur’an dengan lagam Rost—setiap Rabu bersama Ustadz Ahmad Dasuki.

Selain itu, kajian kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Atha’illah as-Sakandari diselenggarakan setiap Senin dengan narasumber K.H. Dahyal Afkar, Lc., sebagai ruang refleksi spiritual bagi para pendidik.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak hanya diarahkan kepada siswa, tetapi juga dimulai dari pendidik sebagai teladan utama di lingkungan sekolah.

Pendidikan yang Menyentuh Dimensi Kemanusiaan

Dimensi sosial menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan Ramadan. Sekolah mengadakan pengumpulan dan pendistribusian Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) kepada masyarakat yang membutuhkan. Program ini menjadi media pembelajaran nyata tentang solidaritas sosial dan tanggung jawab kemanusiaan.

Baca juga : Gapai Berkah Ramadan, Sekolah BM 400 Depok Gelar Bakti Sosial untuk Warga Sekitar

Menurut Sofiandi, pendekatan Ramadan di Bakti Mulya 400 dirancang selaras dengan visi pendidikan holistik sekolah. “Kami ingin siswa memahami bahwa ibadah bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dengan manusia dan lingkungan.”

Menyiapkan Generasi Berkarakter

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Sekolah Bakti Mulya 400 berupaya menjadikan Ramadan sebagai pengalaman pendidikan yang membekas—mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Di tengah tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks, pendekatan integratif ini menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang pembentukan karakter yang hidup, tempat nilai agama, kemanusiaan, dan pembelajaran masa depan berjalan beriringan.